Pesan Natal Nasional 2025, Ketua PGI: Allah Hadir Pulihkan Keluarga yang Rapuh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Natal Nasional 2025 mengangkat tema "Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga". Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty mengungkapkan bahwa keluarga adalah titik awal di mana peristiwa keselamatan Tuhan terjadi dan karakter bangsa dibentuk.
Jacklevyn menjelaskan bahwa selama ini imajinasi publik tentang Natal sering kali terpaku pada simbolisme luar seperti palungan, kandang, atau perjalanan para Majus. Namun, banyak yang luput menyadari bahwa peristiwa Natal pertama kali terjadi di tengah dinamika keluarga Yusuf dan Maria.
"Keluarga Maria dan Yusuf bukan keluarga yang sempurna, rapuh, tegang saat itu. Maria hamil di luar pernikahan, ancaman hukumannya mati, tegang. Yusuf mau kabur dan lain-lain, malaikat datang dan bilang 'eh jangan kabur, jangan kabur'. Allah hadir, namanya Yesus, Immanuel, Allah beserta kita," kata Jacklevyn dalam Seminar Natal Nasional 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta, Sabtu (3/1/2025).
Dari kisah kelahiran Yesus tersebut, menunjukan bahwa Tuhan Yesus datang untuk memulihkan keluarga yang rapuh. Yesus hadir untuk membawa pemulihan.
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, James Riady: Kemajuan Teknologi Harus Diiringi Kekuatan Rohani
"Jadi penghampiran Allah, Allah merengkuh, Allah hadir bahkan di tengah rumah tangga keluarga yang rapuh dan dia mengangkat dan dia memulihkan. Pemulihan terjadi di situ," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa proklamasi keselamatan tidak dimulai dari institusi besar atau gereja, melainkan dari ruang domestik. Hal ini menjadi relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana institusi keluarga sedang menghadapi tantangan hebat seperti tingginya kasus perceraian, pinjol, judol, komunikasi antar generasi dalam satu rumah tangga, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
"Masyarakat modern di wilayah perkotaan seperti ini mengalami hal-hal seperti itu yang membuat keluarga mengalami kerentanan dari waktu ke waktu. Karena itu kita melihat tema ini harus diangkat," tuturnya.
Jacklevyn menyebut bahwa keluarga sebagai tempat inkubasi karakter. Ia mengenang pengalaman pribadinya di mana nilai-nilai keadilan, doa, dan berbagi tidak ia pelajari pertama kali di gereja, melainkan di meja makan keluarga.
"Memang sekarang susah mencari meja yang seperti itu di dalam kota metropolitan. Tetapi kita harus menciptakan momentum-momentum itu," ungkapnya.

