Seminar Natal Nasional 2025, Kemenag: Tidak Ada Mayoritas-Minoritas, yang Ada Adalah Keadilan
BANDUNG, investortrust.id - Kementerian Agama (Kemenag) menekankan, tidak ada lagi istilah mayoritas dan minoritas dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kemenag menekankan, yang ada saat ini adalah keadilan bagi seluruh umat beragama.
Hal itu disampaikan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Kerukunan, Pelayanan Agama, dan Pengawasan, Gugun Gumilar dalam Seminar Natal Nasional di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, Rabu (10/12/2025).
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025 Akan Hasilkan Buku untuk Perkuat Peran Keluarga
Gugun menegaskan pemerintah memiliki komitmen kuat untuk hadir secara adil dalam seluruh kegiatan keagamaan. Ia mencontohkan kehadiran Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam kebaktian besar Gereja Tiberias.
"Kementerian Agama ingin memastikan bahwa seluruh kegiatan keagamaan hadir secara adil bukan hanya utk umat Islam. Dalam konstitusi kita, Undang Dasar 1945, Kemudian Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, Kemudian unity in diversity, tidak ada kata minoritas, tidak ada kata mayoritas. Yang ada adalah keadilan dan kesejahteraan bagi bersama umat manusia," kata Gugun.
Gugun mengatakan, tema Natal Nasional 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” senapas dengan visi dan misi Presiden Prabowo Subianto. Dikataka, penguatan keluarga merupakan fondasi vital untuk membangun harmoni dan ketahanan sosial Indonesia. toleransi beragama, katanya,
Gugun membuka sesi dengan apresiasi kepada Panitia Natal Nasional serta menyampaikan salam dari Menteri Agama yang berhalangan hadir. Ia menekankan bahwa tema Natal tahun ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat toleransi, memperbaiki kualitas hubungan antaragama, dan memastikan keadilan pelayanan negara bagi seluruh umat beragama.
"Dalam Islam, madrasah sekolah pertama itu adalah keluarga atau ibu. Sama pada intinya adalah napas toleransi adalah dari keluarga," katanya.
Gugun mengatakan, tidak ada kedamaian dalam sebuah bangsa dan negara, tanpa kedamaian dalam beragama. Namun, tidak ada kedamaian dalam sebuah agama dan antarumat agama, tanpa adanya dialog. Untuk ut, katanya, Kemenag selalu mengedapankan dialog jika terjadi konflik di lapangan, termasuk terkait izin gereja.
"Di mana pun saya sering turun di lapangan, maka pendekatan kita adalah dialog umat beragama," katanya
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, James Riady Yakin Indonesia Tidak Gelap jika Iman Hidup di Rumah
Kementerian Agama, katanya, berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI dalam mengambil kebijakan. Dikatakan, konstitusi yang diletakkan para pendiri bangsa menjadi kesepakatan seluruh elemen bangsa.
"Bagaimana negara kita adalah satu napas. Tidak ada mayoritas dan minoritas dan kita adalah satu bangsa, satu napas, satu tanah air," katanya.

