Seminar Natal Nasional 2025, James Riady Yakin Indonesia Tidak Gelap jika Iman Hidup di Rumah
BANDUNG, investortrust.id - Chairman Lippo Group James Riady meyakini masa depan Indonesia akan cerah jika iman hidup dalam rumah setiap keluarga. Keyakinan itu disampaikan James Riady dalam Seminar Natal Nasional 2025 yang mengusung tema "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” di Kampus Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, Rabu (10/12/2025).
James Riady menegaskan pesan utama Natal adalah kehadiran Allah yang turun langsung memasuki kehidupan manusia, terutama melalui institusi keluarga sebagai fondasi masyarakat. Dikatakan, keluarga merupakan institusi yang paling dasar dan inti dari sebuah bangsa. Untuk itu, bangsa akan kuat jika keluarga dipulihkan.
"Institusi yang paling dasar yang paling inti di dalam setiap bangsa adalah institusi dari keluarga itu sendiri. Jika iman hidup di rumah, masa depan Indonesia pasti tidak gelap," kata James Riady.
Baca Juga
Panitia Natal Nasional 2025 Gelar Rangkaian Seminar Bertema Keluarga di 9 Kota
Menurut James Riady, Natal merupakan peristiwa unik dalam sejarah kemanusiaan karena Allah yang datang mencari manusia. Inti iman Kristiani berakar pada keyakinan Kristus hadir sebagai manusia secara nyata, bukan sebagai simbol atau utusan. Allah mengambil rupa manusia demi menyelamatkan umat-Nya.
Kristus, kata James, hadir bukan melalui pusat kekuasaan, melainkan melalui keluarga sederhana. Pesan tersebut dinilai relevan dalam memperkuat kembali fungsi keluarga sebagai pusat pembentukan karakter, moral, dan ketahanan sosial bangsa.
"Allah datang ke dunia untuk masuk ke rumah, masuk ke keluarga, masuk ke meja makan, masuk di dalam tangisan-tangisan dan kesengsaraan-kesengsaraan manusia. Ia melakukan itu bukan melalui istana, tetapi melalui keluarga. Artinya jelas sekali, penyelamatan manusia dimulai dari keluarga," katanya.
James menekankan luka terbesar manusia kerap terjadi di lingkungan keluarga. Untuk itu, James menilai pemulihan bangsa harus dimulai dari rumah.
"Kristus bangkit, pengampunan itu nyata, pemulihan itu mungkin, masa depan itu terbuka, dan semua ini bukan hanya untuk gereja. Ini untuk rumah tangga, unit gereja yang paling dasar karena luka terbesar manusia paling sering tidak terjadi di jalanan, tetapi di rumah," katanya.
James juga menyoroti isu toleransi beragama. Dikatakan, toleransi tidak lahir dari seminar. Toleransi lahir dari meja makan di rumah.
"Dari cara orang tua berbicara, dari cara ayah menghormati sang ibu, dari cara ayah mencoba mengasihi istri dan anak-anaknya, dari cara keluarga memandang orang lain yang berbeda," katanya.
Baca Juga
Natal Nasional 2025, Menyapa Mereka yang Menderita dan Berkekurangan
Untuk itu, James mengajak umat Kristiani James kembali menempatkan keteladanan keluarga sebagai panggung utama iman, bukan politik atau kekuasaan. Kesetiaan pada nilai keluarga, pengampunan, dan kasih menjadi syarat penting agar iman tetap relevan di ruang publik.
"Jika iman kita tidak terlihat di rumah maka ia akan kehilangan wibawa di ruang publik," ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, James mengapresiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang memiliki perhatian besar pada keluarga, perlindungan anak, dan pembangunan manusia Indonesia.

