Redam Polarisasi di Ruang Publik, Perhumas Dorong Gerakan ‘Indonesia Bicara Baik’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Bidang Pengembangan Kampanye Kehumasan Perhumas Laurentius Iwan Pranoto menyatakan pentingnya membangun budaya percakapan yang sehat di tengah dinamika komunikasi yang kian cepat dan panas, khususnya di ruang digital.
Ia menyebut, kondisi ruang publik belakangan ini ibarat ‘cuaca mendung’ yang sering menurunkan hujan komentar kasar, misinformasi, dan reaksi emosional yang tak terkendali.
“Bangsa yang kuat itu dimulai dengan percakapan yang sehat. Percakapan yang sehat di Indonesia, berarti kita mulai dengan yang baik,” ujar Iwan, dalam bincang daring #IndonesiaBicaraBaik, yang digelar Dompet Dhuafa, Rabu (19/11/2025).
Iwan menjelaskan, gerakan ‘Indonesia Bicara Baik’ lahir dari kebutuhan memperbaiki kualitas interaksi masyarakat, baik dalam pertemuan langsung maupun melalui media sosial.
Baca Juga
Terpilih secara Aklamasi, Boy Kelana Jadi Ketum Perhumas 2024-2027
Dampak komunikasi di ruang digital kini meluas begitu cepat, sehingga satu kata yang buruk dapat menciptakan kekacauan, tapi satu kata yang menenangkan juga mampu mengubah arah percakapan.
Menurutnya, ada tiga pilar utama yang diusung Perhumas untuk membangun percakapan publik yang lebih sehat, yaitu empati, literasi, dan teladan.
“Dengan adanya empati itu kita bisa merasakan, karena empati itu menjadi pintu utama kita bisa memahami. Tanpa empati, percakapan apapun itu jadinya tegang,” kata Iwan.
Pada aspek literasi, ia menilai sebagian besar kegaduhan di dunia digital terjadi bukan karena niatan buruk, melainkan karena rendahnya kebiasaan untuk mengkroscek informasi.
“Dengan literasi, kelihatan baik saja itu tidak cukup kalau informasinya itu keliru,” ucap Iwan.
Baca Juga
Donasi Wakaf Al-Quran Melalui Kolaborasi Dompet Dhuafa dengan Gramedia dan Al-Qosbah
Sementara itu, teladan menjadi aspek yang menurut Iwan paling menentukan. Ia menilai kata-kata baru mempunyai makna tersendiri ketika dipraktikkan.
“Orang akan lebih mudah mengikuti contohnya biasanya, dibanding cuman memberikan nasihat saja. Jadi, lewat teladan yang sederhana, kita bisa memilih, menjawab dengan lebih tenang di tengah provokasi atau kabar-kabar yang meragukan,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, menjaga percakapan adalah bentuk antisipasi terhadap kebisingan yang mendominasi ruang publik saat ini.
“Kalau kita mau mencoba menanggapi pesan dengan solutif, sopan, elegan, dengan pikiran baik, kita juga bisa membalas informasi dengan baik juga. Harapannya, kita bisa memberi contoh kepada orang yang melihat kita,” kata Iwan.

