Eva Sundari Ungkap Cerita di Balik Gelar Pahlawan Nasional Marsinah
JAKARTA, Investortrust.id -- Direktur Institut Sarinah Eva Sundari menceritakan awal mula dirinya membantu proses gelar pahlawan nasional untuk tokoh buruh Marsinah. Eva menilai, proses pengusulan tersebut berjalan berkat sebuah simbiosis mutualisme antara berbagai pihak yang memiliki visi dan tujuan yang sama.
Eva menyusun naskah akademik pengajuan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Ia enjelaskan inisiatif ini didorong oleh dirinya sendiri dan Institut Sarinah, lembaga yang didirikannya.
Baca Juga
Said Iqbal: Gelar Pahlawan bagi Marsinah Sudah Disampaikan Partai Buruh Dua Tahun Lalu
"Jadi saya mengajukan diri. Aku saja yang menulis naskah akademik dengan teman-teman di Institut Sarinah. Nah betul, pada Oktober naskah itu sudah jadi," kata Eva di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Eva kemudian segera menghubungi Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi yang kebetulan merupakan adik kelasnya saat SMP. Marhaen mengaku upaya pengajuan Marsinah sebagai pahlawan nasional tersebut sempat mendek.
"Oh iya mbak, terima kasih. Ra iso mlaku. Untuk kick-off itu enggak bisa jalan. Setelah ada naskah akademik yang tidak lengkap," kata Eva meniru pernyataan Marhaen.
Menurut Eva kolaborasi saling melengkapi menjadi kunci keberhasilan inisiatif tersebut. Meski Institut Sarinah menyusun naskah akademik, data pendukung di lapangan justru dikumpulkan oleh aktivis dari serikat buruh.
"Jadi saling melengkapi. Jadi saya melihat ini seperti, kerja yang koordinasi pikiran saja begitu. Karena semua orang setuju untuk mengangkat ini," ucapnya.
Eva menuturkan, gelar pahlawan nasional untuk Marsinah adalah upaya mengatasi minimnya representasi perempuan dari kalangan rakyat biasa yang mendapatkan gelar tersebut.
"Enggak ada perempuan yang dari rakyat. Kebanyakan dari tentara dan laki-laki," tuturnya.
Baca Juga
Marsinah Jadi Pahlawan Nasional, Presiden KSPSI Andi Gani: Prabowo Tepati Komitmennya
Eva juga menolak tegas dugaan yang mengaitkan penetapan Marsinah dengan tawaran politik, terutama terkait wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto.
"Enggak ada dong. Pak Soeharto itu diusulkan kan jauh hari sebelumnya kan mentok hilang lagi, mentok hilang lagi. Dan Alhamdulillah karena kerja koordinasi ini kita yang paling akuntabel. Kita ada naskah akademiknya, Ada series of discussion, research, dan sebagainya," katanya.

