Romo Magnis Ungkap Alasan Kuat Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan Nasional
JAKARTA, Investortrust.id -- Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Franz Magnis-Suseno mengungkap alasan utama Presiden ke-2 RI Soeharto tidak layak mendapat gelar pahlawan nasional. Romo Magnis, sama Franz Magnis-Suseno menyebut Soeharto melakukan korupsi.
"Salah satu alasan mengapa Soeharto tidak boleh menjadi pahlawan, adalah bahwa dia melakukan korupsi besar-besaran," kata Romo Magnis dalam diskusi di gedung YLBHI, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Baca Juga
Menghadap Prabowo, Bahlil: Golkar Usulkan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Soeharto, katanya, memperkaya dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekatnya. Padahal, seorang pahlawan nasional seharusnya tanpa pamrih memajukan bangsa.
"Bagi saya, ini alasan yang sangat kuat bahwa (Soeharto) jangan dijadikan pahlawan nasional," katanya.
Selain itu, kata Romo Magnis, Soeharto juga memiliki rekam jejak pelanggaran HAM. Salah satunya pembantaian anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) sesudah peristiwa 1965. Bahkan, peristiwa itu disebut sebagai salah satu dari genosida terbesar umat manusia di abad ke-20.
"Tentu juga ada pelanggaran HAM lain yang keras dan kasar," katanya.
Meski demikian, dalam kesempatan ini, Romo Magnis mengakui Soeharto merupakan presiden yang hebat bagi Indonesia. Soeharto merupakan pemimpin yang membawa Indonesia keluar dari krisis komunisme pada tahun-tahun terakhir demokrasi terpimpin. Meski orang kaya makin kaya, di masa pemerintahan Soeharto orang miskin jadi lebih baik.
"Jadi Soeharto juga tidak perlu disangkal membuat Indonesia di internasional diakui," ungkapnya.
Baca Juga
KIKA Tolak Wacana Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto, Ini Alasannya
Tak hanya itu, Soeharto juga sejak semula menolak konfrontasi dengan Malaysia dan membuat Indonesia menjadi bagian ASEAN.
"Jadi jasa Pak Harto tidak perlu disangkal, tetapi dari seorang pahlawan nasional dituntut lebih. Dituntut bahwa yang tidak melakukan hal-hal yang jelas melanggar etika dan mungkin juga jahat," paparnya.

