Asa Hidup 18 Spesies Burung Liar di Indonesia Alami Kenaikan
JAKARTA, investortrust.id - Burung Indonesia, organisasi pelestarian burung liar Indonesia, melaporkan kondisi burung liar di Tanah Air yang mengalami perbaikan pada 2024. Berdasarkan catatan Burung Indonesia, sebanyak 18 spesies burung di Indonesia, dari 30 spesies burung, mengalami kondisi membaik. Tetapi, 12 spesies burung mengalami kenaikan status atau dalam kondisi konservasi memburuk.
“Status Burung di Indonesia Tahun 2025 menggambarkan kondisi terkini keanekaragaman hayati dan tingkat keterancaman burung di Tanah Air,” kata Conversation Partnership Adviser Burung Indonesia Ria Saryanthi, dalam keterangan resminya, Selasa (22/4/2025).
Ria menjelaskan dari 18 spesies yang mengalami penurunan status, atau mengalami kondisi membaik, hanya dua spesies yang mencerminkan perubahan sebenarnya. Dua spesies tersebut yaitu pecuk-ular asia (Anhinga melanogaster) dan ibis cucuk-besi (Threskiornis melanocephalus).
Dua spesies burung tersebut sempat masuk dalam kategori Mendekati Terancam Punah sejak 2004. Tetapi, pada 2024, statusnya menurun menjadi Risiko Rendah. Penurunan status ini mencerminkan adanya perbaikan nyata dalam kondisi populasi mereka di alam.
Sementara itu, 16 spesies burung lainnya karena ketersediaan data atau informasi baru. Beberapa spesies yaitu poksai kuda (Garrulax rufifrons) yang sejak 2013 dikategorikan sebagai Kritis.
Tinjauan ulang Burung Indonesia menunjukkan spesies ini dapat dijumpai secara reguler di 14 lokasi yang tersebar di enam area hutan pegunungan di Pulau Jawa. Dengan kondisi itu, status poksai kuda turun menjadi Genting.
Kondisi yang sama juga berlaku untuk spesies celepuk banggai dan walik banggai. Dua spesies ini masuk dalam kategori Rentan sejak 2014. Tapi, pada 2022, keduanya ditemukan di Pulau Peling, Banggai Kepulauan.
Sementara itu, sebanyak 11 dari 12 spesies, mengalami peningkatan kategori keterancaman. Salah satu yang terlihat yaitu mentok rimba (Asarcornis scutulata) yang berstatus Kritis. Ancaman terhadap 11 spesies ini antara lain, konservasi hutan rawa dataran rendah yang menjadi perkebunan, degradasi habitat akibat pengelolaan hutan yang tidak tepat, perburuan liar, dan pengambilan telur.
“Sejumlah spesies mengalami peningkatan risiko kepunahan akibat tekanan terhadap habitat, perburuan, serta faktor-faktor lainnya. Meski begitu, ada pula spesies yang menunjukkan perbaikan status berkat perlindungan dan pemantauan yang berkelanjutan. Hal ini membuktikan bahwa langkah-langkah konservasi dapat memberikan dampak positif,” kata dia.
Sebanyak delapan spesies burung pantai juga mengalami peningkatan kategori keterancaman. Spesies-spesies tersebut adalah burung migran yang bergantung pada jaringan lahan basah sepanjang Jalur Terbang Asia Timur-Australasia.
Peningkatan status mereka sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat penting akibat reklamasi pesisir, konversi lahan skala besar, dan gangguan manusia selama fase migrasi dan overwintering.
Hingga akhir tahun 2004, tidak ada perubahan besar dalam jumlah spesies burung endemis di Indonesia. Jumlahnya masih sama seperti tahun sebelumnya, 542 spesies. Tetapi, jika dihitung dalam lima tahun terakhir, terdapat penambahan 30 spesies baru.
Lebih dari separuh merupakan hasil dari proses pemisahan taksonomi. Salah satu contohnya adalah burung kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) yang sebelumnya dianggap tersebar luas dari Asia Selatan hingga Indonesia.
Berdasarkan catatan selama tahun 2024, persebaran burung endemis tidak merata. Sebagian besar mereka ditemukan di wilayah Wallacea yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Ada tiga kelompok burung yang menyumbang sekitar 75% dari total burung endemis Indonesia. Mereka terdiri dari Passeriformes (burung kicau: 326 spesies), Columbiformes (burung dara, merpati, dan uncal: 42 spesies), dan Psittaciformes (burung paruh bengkok: 41 spesies).
Kebanyakan mereka hidup di habitat hutan, baik hutan dataran rendah maupun pegunungan. Oleh karena itu, hilangnya hutan alami dapat berdampak langsung terhadap keberadaan burung endemis yang mempunyai sebaran geografis sangat terbatas.

