Densus 88 Terus Monitoring 'Splinter Cells' Eks Jamaah Islamiyah
JAKARTA, Investortrust.id -- Detasemen 88 terus memonitori splinter cells eks anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang telah dibubarkan sejak Juni 2024 lalu. Pengertian splinter cells merujuk pada kelompok kecil yang terpisah dari kelompok yang besar.
"Karena irisan ideologi dengan beberapa organisasi lain ada kemungkinan splinter cell itu, walaupun kita sangat percaya bahwa para pemimpin JI sangat mewanti-wanti pengikutnya untuk tetap on the track, ada rambu-rambu, poin-poin pembubaran itu, boleh splinter ke organisasi moderat," kata Kasubdit Kontranaratif Direktorat Pencegahan Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, Kamis (10/4/2025).
Kendati demikian, Mayndra mengingatkan di era digital saat ini seseorang yang tidak punya niat namun memiliki kesempatan bisa terjerumus ke dalam gerakan radikal melalui tayangan di sosial media. Kemarahan bisa muncul melalui berbagai tayangan tidak manusiawi yang memperlihatkan situasi peperangan di Timur Tengah.
Baca Juga
Ini 10 Negara Paling Terdampak Terorisme Menurut Global Terrorism Index 2025
"Tentunya provokasi, hoaks dan banyak konten-konten di medsos itu, itu juga bisa memicu konflik, kalau konflik ini kawin dengan ideologi maka terjadinya teror, kalau sekarang ada namanya lone wolf actor itu yang harus diwaspadai," ujarnya.
Pemerintah berharap hal semacam itu tidak terjadi. Apalagi warga indonesia terkoordinir secara kolektif dalam gerakan-gerakan diplomatik. Kemudian secara keumatan, umat muslim memiliki pemimpin seperti Menteri Agama, MUI. Sehingga dengan kepemimpinan umat seperti itu maka diharapkan eks anggota JI tidak tergelincir ke dalam splinter cells.
Oleh karena itu Detasemen 88 mengharapkan adanya kerja sama seluruh kelompok masyarakat dalam mengantisipasi gerakan terorisme. Menurutnya peran keluarga dan komunitas lokal penting dalam mencegah terorisme.
"Kalau untuk generasi muda ya orang tua menjadi kontrol penuh buat anak-anaknya, kemudian komunitas lokal itu juga bisa melihat mengakses anggota komunitasnya. Ketika mulai radikal itu dia pasti nyeleneh, akan berbeda dengan yang lain, disitu mungkin perlu pendekatan," tuturnya. (C-14)

