JAKARTa, investortrust.id - Tokoh pers nasional Atmakusumah Astraatmadja meninggal dunia, Kamis (2/1/2025) pukul 13.05 WIB. Atmakusumah meninggal dunia pada usia 86 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Jakarta, setelah menjalani perawatan di Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit/ICU).
"Ayah sempat dirawat di ICU RSCM Kencana lantai 3 karena gagal ginjal. Mohon doa bagi ayah, semoga amal dan perbuatan selama hidupnya dikenang dan bermanfaat bagi semua yang ditinggalkan," kata putra kedua Atmakusumah, Rama Ardana Astraatmadja dikutip dari Antara.
Baca Juga
Atmakusumah Astraatmadja Terima Lifetime Achievement Anugerah Dewan Pers 2023
Rama menyampaikan keluarga berterima kasih kepada tim tenaga kesehatan RSCM. Tim dokter dan paramedis RSCM sempat memberikan perawatan terhadap Atmakusumah menggunakan alat terapi untuk melanjutkan fungsi ginjal atau continues renal replacement theraphy (CRRT).
Atmakusumah merupakan ketua Dewan Pers independen periode 2000-2003.
Sebutan independen tersebut karena untuk pertama kalinya ketua Dewan Pers berasal dari tokoh masyarakat. Sebelumnya, berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers (UU Pokok Pers) Dewan Pers diketuai menteri penerangan.
Pak Atma, sapaan akrab Atmakusumah, lahir pada 20 Oktober 1938 di Labuan, Banten, dari keluarga Joenoes Astraatmadja yang pernah menjadi asisten wedana, wedana, dan pejabat Bupati Bekasi.
Atmakusumah Astraatmadja memulai karier jurnalistik sejak usia sekitar 20 tahun di Harian Indonesia Raya pada medio 1950-an hingga tutup pada 1958. Saat Harian Indonesia Merdeka kembali terbit pada 1968, Atmakusumah bergabung kembali dan menjadi redaktur pelaksana hingga dibredel Orde Baru pada 1974 lantaran dikaitkan dengan pemberitaan Malapetaka 15 Januari (Malari).
Atmakusumah sempat berkarier menjadi koresponden Pers Biro Indonesia (Press Indonesia Agency/PIA) 1960 yang melebur ke Kantor Berita Antara pada 1962 saat berkelana di Benua Eropa, bahkan menjadi ketua Serikat Sekerja Antara saat kembali ke Jakarta pada tahun 1966-1968. Atmakusumah juga pernah komentator isu dalam negeri dan luar negeri di RRI, Radio Australia (ABC) di Melbourne, Radio Jerman (Deutsche Welle), asisten pers dan spesialis di Layanan Informasi Amerika Serikat (United States Information Service/USIS, 1974-1992).
Atmakusumah juga mengajar hingga menjadi direktur eksekutif Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS) pada periode 1993-2002). Hingga akhir hayatnya, ia masih tercatat mengasuh kanal "Atma Menjawab" seputar kasus jurnalistik di laman lpds.or.id yang dikelola lembaga yang didirikan Dewan Pers pada 23 Juli 1988 itu. Melalui LPDS, ia pun menulis dan menyunting belasan buku mengenai dunia jurnalistik dan hubungan masyarakat.
Atmakusumah meraih Anugerah Ramon Magsaysay pada 31 Agustus 2000 untuk kategori Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif dari The Ramon Magsaysay Award Foundation di Manila, Filipina. Ia juga menerima Kartu Pers Nomor Satu (Press Card Number One/PCNO) dari komunitas Hari Pers Nasional (HPN) 2010, Medali Emas Kemerdekaan Pers HPN 2011, dan Anugerah Pengabdian Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement) Dewan Pers 2023.
Pasangan suami istri Atmakusumah-Sri Rumiati dikarunai tiga putra, Kresnahutama Astraatmadja alias Tamtam (produser film dan pendiri Pikser Indonesia Production di Jakarta), Rama Ardana Astraatmadja (produser film dan penyunting buku di Yogayakarta), dan Tri Laksmana Astraatmadja (doktor astrofisika partikel di Baltimore, AS).