Profil Meutya Hafid, Calon Kuat Menkominfo Prabowo yang Pernah Disandera di Irak
JAKARTA, investortrust.id - Politikus Partai Golkar sekaligus Ketua Komisi I DPR 2019-2024 Meutya Hafid menjadi tokoh yang datang mengikuti pembekalan calon menteri dan wakil menteri (wamen) di kediaman presiden terpilih Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, Rabu (16/10/2024).
Sebelum mengikuti pembekalan di Hambalang, Meutya terlebih dahulu datang ke rumah Prabowo di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan malam bersama sejumlah calon menteri lainnya pada Senin (14/10/2024).
Baca Juga
Seusai bertemu dengan Prabowo, Meutya Hafid menyebut dirinya membahas tugas-tugas yang terkait dengan keahliannya. Namun, dia enggan menjelaskan keahlian apa yang dimaksud.
“Diundang terkait tugas-tugas yang memang menjadi bidang saya. Mungkin beliau mengajak untuk kemudian memperkuat tim beliau. Bidang saya lah pokoknya,” katanya kepada awak media.
Kabar yang beredar menyebut Meutya akan menjabat sebagai menteri komunikasi dan informatika (menkominfo) pada pemerintahan Prabowo Subianto dan wakil presiden (wapres) terpilih Gibran Rakabuming Raka.
Perempuan yang sebelumnya dikenal sebagai jurnalis itu menyebut Prabowo akan mengumumkan posisi yang ditempatinya pada pemerintahan selanjutnya. Dia mengungkapkan tugas yang akan diembannya tidaklah mudah.
“Saya mohon dukungannya dari teman-teman media, karena tugasnya cukup berat. Beliau tadi sampaikan tugasnya cukup berat dan jadi salah satu fokus beliau. Jadi, saya mohon dukungan teman-teman media untuk membantu,” tuturnya.
Baca Juga
Budi Arie Pastikan Meutya Hafid Bakal Isi Posisi Menkominfo di Kabinet Prabowo
Profil Meutya Hafid
Mengutip laman resmi DPR, perempuan dengan nama lengkap Meutya Viada Hafid itu lahir di Bandung, Jawa Barat pada 3 Mei 1978. Sebelum terjun ke dunia politik, Meutya merupakan seorang jurnalis di Metro TV.
Meutya mengenyam pendidikan tinggi di The University of New South Wales, Sydney Australia pada 1996-2000 di bidang teknik manufaktur. Pada 2018, dia menyabet gelar magister ilmu politik dari Universitas Indonesia.
Baca Juga
Meutya Hafid Ungkap Tujuannya Berkunjung ke Rumah Prabowo, Bahas Kabinet?
Nama Meutya dikenal luas setelah bertugas meliput Pemilu Irak pada Februari 2005. Saat itu, Meutya dan juru kamera Metro TV Budiyanto bahkan sempat disandera oleh kelompok mujahidin Irak selama tiga hari hingga akhirnya dibebaskan dan kembali ke Tanah Air.
Pengalamannya disandera kelompok Mujahidin Irak kemudian dituangkan dalam buku berjudul 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak yang terbit pada 2007. Pada tahun yang sama, Meutya juga terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill dari pemerintah Australia.
Meutya juga mendapatkan sejumlah penghargaan atas prestasinya di bidang jurnalistik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya Women of Courage dari Kaukus Perempuan Singapura pada 2005 dan Press Card Number One (PCNO) saat Hari Pers Nasional alias HPN pada 2013.
Karier politiknya dimulai pada 2010 ketika mulai menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.
Awalnya, Meutya bertugas di Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan. Namun, setelah 17 bulan bertugas di Komisi XI, Meutya dipindahkan ke Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika hingga 2014.
Meutya Hafid kembali terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019 dan kembali bertugas di Komisi I. Pada 2016, dia kemudian ditunjuk sebagai wakil ketua Komisi I dan bertugas sampai akhir masa jabatannya pada 2019.
Pada 2019 Meutya kembali terpilih sebagai anggota DPR dan menjabat sebagai ketua Komisi I. Kemudian, pada Pemilu 2024 kemarin, Meutya kembali terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara I sama seperti dua pemilu sebelumnya yang mengantarkannya ke Senayan.
Baca Juga
Meutya Hafid Harap Pemilihan Plt Ketum Golkar Tak Perlu Voting
Meutya diketahui sempat maju di Pilkada Binjai pada 2010, Sumatera Utara sebagai calon wakil wali kota bersama dengan Dhani Setiawan Isma sebagai calon wali kota. Sayangnya keduanya gagal merebut kursi wali kota dan wakil wali kota Binjai untuk periode 2010-2015.
Kemudian di Partai Golkar, Meutya sempat menjabat sebagai ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Golkar periode 2016–2019, ketua Bidang Hukum, HAM dan Kebijakan Publik Kesatuan Perempuan Partai Golkar periode 2016–2021, dan ketua Bidang Strategi Opini dan Propaganda Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong periode 2015-2020.

