Kemenkominfo Jadi Kementerian Komunikasi dan Digital, Menterinya Meutya Hafid. Ini Profil Lengkap Beserta Dua Wamennya
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengubah nomenklatur Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital.
Hal ini terungkap dalam pengumuman susunan Kabinet Merah Putih oleh Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Minggu (20/10/2024) malam. Prabowo memanggil satu per satu calon menteri dan wakil menteri yang akan dilantik keesokan harinya atau Senin (21/10/2024).
Ketika Ketua Komisi I DPR 2019-2024 Meutya Viada Hafid dipanggil, Prabowo memperkenalkannya sebagai Menteri Komunikasi dan Digital. Dengan demikian, nomenklatur Kemenkominfo resmi berubah di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital," ujar Prabowo.
Perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, 3 Mei 1978 ini adalah anak dari pasangan Anwar Hafid dan Metty Hafid. Meski lahir di kota kembang, Meutya besar di luar Kota Bandung. Pada tahun 1980-an, keluarga Meutya memutuskan pindah ke Jakarta.
Meutya memulai pendidikan dasar di Jakarta. Ia pernah bersekolah di SD Menteng 02 , SMPN 1 Jakarta, dan SMAN 8 Jakarta. Setelah itu, ia ke luar negeri sekolah di Crescent Girl School Singapore dan menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas ternama di UNSW Sydney, Australia, jurusan Manufacturing Engineering.
Baca Juga
Profil Meutya Hafid, Calon Kuat Menkominfo Prabowo yang Pernah Disandera di Irak
Berjalannya waktu, Meutya berlabuh menjadi politisi Partai Golongan Karya (Golkar) dan menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR periode 2019-2024. Sebelum terjun ke dunia politik, Meutya merupakan seorang jurnalis di Metro TV.
Nama Meutya dikenal luas setelah bertugas meliput Pemilu Irak pada Februari 2005. Meutya dan juru kamera Metro TV Budiyanto disandera oleh kelompok Mujahidin Irak selama tiga hari sebelum akhirnya dibebaskan dan kembali ke Tanah Air.
Pada tahun 2007, ia membuat buku yang ia tulis sendiri yaitu 168 Jam dalam Sandera; Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak. Di tahun yang sama, pada 11 Oktober 2007, pecinta yoga dan renang ini terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill dari pemerintah Australia.
Meutya memang sebelumnya juga pernah berkarier sebagai public relations officer and announcer at Eastside Radio in Sydney, Australia.
Adapun karier politiknya dimulai pada 2010 ketika mulai menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.
Awalnya, Meutya bertugas di Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan. Namun setelah 17 bulan bertugas di Komisi XI dia dipindahkan ke Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika hingga tahun 2014.
Baca Juga
Meutya Hafid kembali terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019 dan kembali bertugas di Komisi I. Pada 2016, dia kemudian ditunjuk sebagai wakil ketua komisi I dan bertugas sampai akhir masa jabatannya pada 2019.
Pada 2019 Meutya kembali terpilih sebagai anggota DPR dan menjabat sebagai ketua komisi I. Kemudian, pada 2024 Meutya kembali terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara I sama seperti dua Pemilu sebelumnya yang mengantarkannya ke Senayan.
Wakil Menteri
Dalam mengemban amanahnya, Meutya Hafid akan didampingi oleh dua orang wakil. Yakni Angga Raka Prabowo dan Nezar Patria selaku Wamen Komunikasi dan Digital.
Angga Raka merupakan politikus Partai Gerindra yang sempat menjabat Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Direktur Media Kampanye Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran dalam Pemilu 2024 kemarin.
Angga juga pernah menjadi sekretaris Prabowo dari 2014 hingga 2017 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) di Partai Gerindra.
Saat ini, Angga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal dan Ketua Badan Komunikasi di Partai Gerindra. Namanya kembali menjadi perhatian publik pada 2021 saat Prabowo memperkenalkannya sebagai komisaris PT Teknologi Militer Indonesia (TMI).
Pria kelahiran 8 September 1989 ini meraih gelar S-1 Hubungan Internasional dari Universitas Jayabaya pada 2011. Angga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika sejak 19 Agustus 2024.
Sedangkan, Nezar Patria, pria kelahiran 5 Oktober 1970 merupakan putra daerah dari Aceh. Nezar menempuh pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, di Fakultas Filsafat.
Di sinilah kiprah aktivisnya dimulai. Nezar mengawali kariernya dalam dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja menjadi wartawan Majalah Berita Mingguan di Tempo tahun 1999-2008.
Selesai mengemban tugas wartawan di Tempo, Nezar mendirikan portal berita Viva.co.id tahun 2008-2014 bersama teman seperjuangannya dan juga terpilih menjadi redaktur pelaksana.
Melihat berbagai kemampuannya, ia dipercayai menduduki jabatan sebagai wakil pemimpin redaksi CNN Indonesia tahun 2014-2014 dan pemimpin redaksi di The Jakarta Post tahun 2015-2020.
Perjalanan panjangnya dalam dunia jurnalistik, hal ini mengantarkan dirinya menjabat sebagai Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam periode 2008-2011 dan Anggota Dewan Pers, Ketua Komisi Hubungan Antar lembaga tahun 2016-2019.
Dalam bidang pemerintahan, Nezar pernah menjabat sebagai Staf Khusus V di Menteri BUMN tahun 2022 hingga 2023. Ia dipercayai menduduki posisi tersebut melihat pengalamannya yang pernah menjabat sebagai Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia (Persero) tahun 2020-2022 dan Komisaris Utama PT Dapensi Trio Usaha tahun 2021-2022. Kemudian, pada 17 Juli 2023, Nezar dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Wakil Menteri Kominfo.

