Tiru Jepang, Indonesia Siapkan Notifikasi Peringatan Bencana yang Muncul Otomatis di Ponsel
BADUNG, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akan mengembangkan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) bencana menggunakan cell broadcast atau notifikasi yang dikirimkan ke seluruh pengguna ponsel di wilayah terdampak.
Direktur Pengembangan Pita Lebar Kemenkominfo Marvels Parsaoran Situmorang mengatakan peringatan dini bencana tersebut akan didukung oleh Disaster Prevention Information System (DPIS) hibah dari Pemerintah Jepang dengan nilai mencapai ¥ 1,49 miliar atau sekitar Rp 157,6 miliar. Cell broadcast akan menggantikan peringatan dini bencana yang dikirimkan lewat pesan instan secara massal (SMS blast).
"SMS blast ini kelemahannya adalah informasi tidak langsung tersampaikan. Kalau jaringan congestion (terhambat) informasinya akan delay (tertunda). Hari ini sudah dikirimkan oleh pemberi informasi, diterimanya bisa dua jam lagi atau bahkan besok kalau traffic (lalu lintas komunikasi sedang ramai," katanya usai acara peluncuran DPIS dan sistem peringatan dini bencana melalui siaran televisi digital di The Trans Resort Bali, Badung, Bali, Senin (23/9/2024).
Marvels menjelaskan, apabila sistem peringatan dini bencana menggunakan cell broadcast, seluruh ponsel yang terhubung dengan menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) di wilayah terdampak bencana akan mendapatkan notifikasi tanpa terkecuali. Notifikasi dikirimkan hanya berselang beberapa detik setelah bencana terjadi.
Tentu saja, implementasi cell broadcast membutuhkan waktu dan tidak bisa terwujud dalam waktu dekat. Sebab, diperlukan dukungan dari banyak pihak, khususnya operator seluler.
Baca Juga
BMKG Ramal Cuaca Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Senin (2/9/2024)
"Kalau perangkat kita terkoneksi, itu terkoneksi ke cell. Sekarang ini, perangkat kita terkoneksi ke cell dan kita tidak tahu terkoneksi ke cell yang mana. Tetapi di operator seluler itu ada alamatnya. Cell ini koordinatnya ada di mana," tuturnya.
Sebelumnya, Marvels menyebut BMKG Dwikorita Karnawati sempat menyinggung penggunaan cell broadcast untuk sistem peringatan dini bencana di Indonesia. Dwikorita menyinggung hal tersebut setelah berkunjung ke Jepang dan menerima pesan peringatan dini bencana gempa bumi.
“Ibu kepala BMKG itu pernah ke Jepang, punya pengalaman ketika ada gempa bumi (pesan peringatan dini bencana) masuk ke handphone (ponselnya). Meskipun bukan pakai kartu Jepang. Karena lewat cell broadcast,” tuturnya kepada awak media dalam sebuah diskusi di Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Jumat (2/8/2024).
Selain mengembangkan sistem peringatan dini bencana yang lebih mumpuni, Kemenkominfo juga akan mengembangkan sistem komunikasi bencana yang terintegrasi antar instansi terkait. Sistem yang dimaksud adalah jaringan komunikasi bencana Public Protection and Disaster Relief (PPDR).
Baca Juga
Durasi Tayang Peringatan Dini Bencana di Televisi Digital hanya 30 Detik, Ini Alasannya
Menurut Marvels, selama ini masing-masing instansi menggunakan jaringan komunikasi terpisah satu sama lain yang membuat proses koordinasi menjadi kurang efektif. Adapun, instansi yang akan menggunakan PPDR antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB); Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG); Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG); Palang Merah Indonesia; dan lain-lain.
"Untuk kita membangun PPDR ini memerlukan dasar hukum, paling tidak peraturan presiden (perpres). Kalau undang-undang (UU) kan melibatkan parlemen. Paling tidak dasar hukum (untuk implementasi PPDR) ini perpres dulu," ujarnya.
Walaupun demikian, bukan berarti Kemenkominfo tidak melakukan apapun terkait dengan rencana implementasi PPDR. Marvels menyebut pihaknya sudah melakukan studi kelayakan untuk memastikan sejauh mana sistem tersebut bisa dijalankan di Indonesia.
"Supaya ada dasar hukum. Paralel kita melakukan feasibility study (studi kelayakan) secara teknis. Feasibility study sedang berjalan sekarang," pungkasnya.

