47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi Akibat Gempa, Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari imbas bencana gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,7 di Nagekeo, Sabtu (15/8/2026).
Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, bencana gempa NTT mengakibatkan 47 orang meninggal dunia. Selain itu, bencana juga turut memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi dan memicu kerusakan bangunan yang sangat masif.
"Merespons eskalasi bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Baca Juga
BMKG Catat 235 Gempa Susulan di Flores, Imbau Waspada Bangunan Rusak dan Hoaks
Langkah serupa juga telah diambil secara resmi di tingkat kabupaten/kota terdampak.
Kabupaten Manggarai telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari atau sejak 15 Agustus hingga 13 November 2026 melalui Keputusan Bupati No.319 Tahun 2026, yang diikuti dengan pembentukan pos komando lewat Keputusan Nomor 320 Tahun 2026.
Kabupaten Ngada memberlakukan masa Tanggap Darurat Bencana dan pembentukan Pos Komando selama 30 hari atau sejak 15 Agustus hingga 15 September 2026) melalui Keputusan Bupati No.441 dan No.442/KEP/HK/2026.
"Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Timur juga menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026," katanya.
Pengungsi dan Korban Jiwa Gempa NTT
Berton mengatakan, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian. Sedangkan di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa.
"Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar," katanya.
Dikatakan, pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset.
Berton mengatakan, guncangan gempa yang telah diikuti oleh 341 kali aktivitas gempa susulan ini memicu dampak kehancuran yang signifikan. Bencana ini merenggut nyawa 47 orang, dengan korban meninggal dunia terbanyak berada di Kabupaten Manggarai 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa.
"Sementara itu, korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat satu jiwa, Ende satu jiwa, dan Nagekeo satu jiwa. Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam," katanya.
Selain jatuhnya korban jiwa, gempa yang berpusat di laut ini mengakibatkan kerugian material yang melumpuhkan aktivitas warga. Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.
"Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah," paparnya.
Baca Juga
Gerak Cepat Prabowo Tangani Gempa NTT, Kerahkan Tim Gabungan dan Kirim Bantuan
Sementara itu, hingga saat ini, tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih bersiaga menyisir lokasi untuk melakukan pendataan dan verifikasi lanjutan. Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka - Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui. Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende - Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa.

