IHSG Rebound Signifikan 3,30%, Gencatan Senjata AS-Iran hingga FTSE Russel Jadi Penopang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (8/4/2026) terpantau naik signifikan. Hingga pukul 11.30 WIB, kenaikan telah mencapai 228 poin (3,30%) menjadi 7.200 dengan nilai transaksi Rp 11,65 triliun.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan, penguatan indeks ditopang sentimen global, terutama setelah tercapainya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
“Kesepakatan ini muncul setelah negosiasi intens, di mana sejumlah syarat utama dari Iran mulai diakomodasi oleh AS, sehingga meredakan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah dan mendorong risk appetite investor global,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga
Ekspansi Energi Hijau, Astrindo (BIPI) Akuisisi 20% Saham Anak Usaha Maharaksa Biru (OASA)
Selain faktor global, penguatan IHSG didukung faktor teknikal berupa rebound setelah tekanan sebelumnya, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang menjaga kepercayaan investor.
Dalam perkembangan terbaru, beberapa poin utama dari Iran mulai dijadikan dasar negosiasi, antara lain pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama minyak global, penghentian sementara serangan militer selama dua minggu, serta kerangka proposal damai jangka panjang.
Namun, sejumlah tuntutan strategis seperti pencabutan sanksi penuh, jaminan keamanan, dan kompensasi kerugian masih dalam tahap negosiasi dan belum mencapai kesepakatan final.
Baca Juga
Elandry memperkirakan, penguatan IHSG berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, namun cenderung terbatas dan diiringi volatilitas. “Arah IHSG saat ini diprediksi akan berada dalam kisaran 7.200–7.300 selama gencatan senjata ini berlaku,” tuturnya.
Ia juga merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati, antara lain sektor perbankan, seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target 7.000 dan Bank Mandiri Tbk (BMRI) di kisaran 4.800–5.000.
Sektor komoditas juga layak dicermati, seperti saham Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ditargetkan 3.500 dan Archi Indonesia Tbk (ARCI) di kisaran 1.700–1.800. Sementara saham defensif seperti Mayora Indah Tbk (MYOR) memiliki target 2.000–2.100.
FTSE Russell
Di sisi lain, Investment Analyst Team Stockbit mencatat FTSE Russell tetap mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dalam interim review April 2026 dan belum memasukkan Indonesia ke Watch List.
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Diprediksi Pertahankan Pertumbuhan Kinerja 2026, Sahamnya Bisa Ngacir
FTSE juga mengapresiasi reformasi transparansi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, persyaratan minimum free float, serta penguatan sistem pengawasan.
Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah faktor penting seperti hasil negosiasi lanjutan, realisasi pembukaan Selat Hormuz, serta pembaruan dari MSCI menjelang review Mei 2026 dan FTSE menjelang review Juni 2026.

