Laba Bersih Trisula International (TRIS) Naik 30,33% pada 2025, Penjualan Tumbuh 14%
JAKARTA, investortrust.id – PT Trisula International Tbk (TRIS) mencatatkan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 30,33% (yoy) menjadi Rp 60,95 miliar pada 2025. Kenaikan tersebut sejalan dengan kenaikan penjualan.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, penjualan perseroan juga meningkat 14% (yoy) menjadi Rp 1,73 triliun, mencerminkan kinerja yang melampaui target.
Presiden Direktur Trisula International Widjaya Djohan mengatakan bahwa segmen manufaktur masih menjadi penopang utama dengan penjualan Rp 1,41 triliun atau tumbuh 17% (yoy), berkontribusi sekitar 66% terhadap total penjualan.
Baca Juga
Dari sisi pasar, penjualan didominasi oleh ekspor yang menyumbang 59% terhadap total penjualan, dengan nilai Rp 1,02 triliun atau meningkat 13% (yoy). Permintaan dari pasar utama seperti Australia, Amerika, dan Jepang menjadi pendorong pertumbuhan.
“Kami bangga dan bersyukur atas capaian kinerja TRIS di tahun 2025 yang berhasil melampaui target, mencerminkan ketahanan perseroan di industri tekstil dan garmen,” ujar Widjaya.
Guna menjaga momentum pertumbuhan, perseroan menyiapkan sejumlah strategi yang berfokus pada penguatan pasar ekspor dan diversifikasi produk. TRIS juga akan memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan Indonesia guna memperluas jangkauan pasar dan membuka akses ke segmen baru.
Baca Juga
Bisnis Tekstil Menantang, Trisula International (TRIS) Berani Bagi Dividen Interim
Selain itu, inovasi produk terus dikembangkan, termasuk menghadirkan kain dengan fitur khusus yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan (customized order), sehingga meningkatkan fleksibilitas dalam melayani permintaan pasar.
TRIS juga optimistis terhadap prospek industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang dinilai masih solid, didukung kebijakan pemerintah sebagai katalis positif.
Saat ini, TRIS telah memperoleh perkembangan pasar baru baik dari pembeli lama maupun pembeli baru, khususnya di Amerika Serikat dan Singapura. “Dengan dukungan katalis positif dari dalam negeri maupun pasar global, kami optimistis terhadap pertumbuhan kinerja pada tahun ini,” tutup Widjaya.

