Harga Bitcoin dan Altcoins Tertekan, Sentimen Makroekonomi Jadi Pemicu
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto masih dalam tekanan di mana inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari ekspektasi dan sikap hawkish The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang membebani sentimen investor.
Inflasi AS meningkat menjadi 3% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. The Fed juga menegaskan belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, yang menyebabkan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Selain itu, aliran keluar dari ETF Bitcoin Spot juga meningkat signifikan. Dalam sepekan terakhir, outflow mencapai US$ 581,2 juta, menghentikan tren arus masuk yang sebelumnya positif.
Ethereum (ETH) juga mencatatkan outflow sebesar US$ 26,3 juta, mengindikasikan investor mulai mengurangi kepemilikan altcoins. Dari sisi on-chain, sebanyak 277.240 dompet BTC aktif keluar dari pasar, menunjukkan berkurangnya aktivitas investor ritel akibat ketidakpastian
makroekonomi.
Menilik data Coinmarketcap, Kamis (20/2/2025) pukul 13.30 WIB, harga mayoritas aset kripto pada umumnya berada di zona hijau dibandingkan satu hari terakhir. Tiga koin papan atas juga tengah menguat, misalnya Bitcoin (BTC) naik 1,71% ke posisi US$ 96.965, Ethereum (ETH) menguat 1,54% ke US$ 2.729, dan XRP melesat 7,11% ke US$ 2,70 per koin.
Baca Juga
Hati-hati! Penipuan Berkedok Kripto Makin Marak, PINTU Beberkan Jenis-jenisnya
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan penundaan tarif timbal balik AS oleh Presiden Donald Trump yang awalnya dijadwalkan minggu ini juga gagal mendorong optimisme pasar. Meskipun ada penundaan, investor tetap khawatir bahwa tarif tersebut akan diterapkan pada kuartal kedua tahun 2025, yang berpotensi memperburuk sentimen global.
“Pasar kripto sempat optimis pasca kemenangan Trump dengan harapan kebijakan ekonomi yang lebih longgar dan regulasi kripto yang lebih ramah. Namun, sentimen tersebut kini berubah negatif akibat meningkatnya arus keluar dari pasar. Dalam empat hari terakhir, ETF Bitcoin mengalami outflow sebesar US$ 680 juta, menandakan aksi profit taking dan pengurangan eksposur terhadap aset berisiko,” jelasnya dalam riset, Kamis (20/2/2025).
Koreksi pasar, menurut Fyqieh juga diperburuk oleh crash di pasar derivatif kripto pada 2-3 Februari, yang mengakibatkan lebih dari US$ 2 miliar likuidasi. Alhasil, Bitcoin saat ini masih tertahan di kisaran US$ 95.000– US$ 96.000, sementara altcoins mengalami koreksi lebih dalam karena likuiditas yang lebih rendah.
Baca Juga
Presiden Argentina Hadapi Panggilan Pemakzulan Atas Jatuhnya Nilai Kripto
Apakah Koreksi Akan Berlangsung Lama?
Indeks Fear & Greed saat ini berada di level 38, menunjukkan dominasi sentimen fear di kalangan investor. Fyqieh menyebut bahwa koreksi ini lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian makroekonomi, terutama setelah inflasi AS naik dan The Fed menunda pemangkasan suku bunga.
“Selama Bitcoin masih bertahan di atas US$ 95.000, tren bullish jangka panjang tetap terjaga. Fase fear seperti ini justru sering menjadi peluang akumulasi bagi investor institusional, terutama dengan adopsi ETF Bitcoin yang masih berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, laporan Bitfinex menunjukkan bahwa volatilitas Bitcoin berada di titik terendah dalam sejarah, menyebabkan pasar tetap tanpa arah. Inter-Exchange Flow Pulse (IFP) Bitcoin berubah menjadi bearish untuk pertama kalinya sejak Juni 2024, menandakan potensi penurunan lebih lanjut.
Laporan QCP Capital juga mengungkap bahwa pasar opsi kripto masih menunggu kebijakan yang konkret, bukan sekadar retorika pro-kripto. Dengan volatilitas yang terus menurun, pergerakan harga kripto tampaknya lebih bergantung pada faktor makroekonomi.
"Jika Bitcoin menembus support US$ 94.000, kemungkinan harga akan turun lebih dalam ke level psikologis US$ 90.000. Namun, jika berhasil pulih dan menembus batas atas konsolidasi di US$ 100.000, pemulihan bisa berlanjut hingga menguji kembali level tertinggi sebelumnya di US$ 106.012," sebut Fyqieh.

