Analis Kompak Rekomendasikan Beli ASII, Laba Diproyeksi Tumbuh hingga 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) diperkirakan mendapat dorongan dari bisnis batu bara dan emas melalui anak usahanya PT United Tractors Tbk (UNTR) 2026. Namun demikian, ketidakpastian kondisi makro global, termasuk konflik di Timur Tengah, masih menjadi faktor risiko yang membayangi kinerja perseroan.
Di tengah ekspektasi dorongan tersebut dua sekuritas ini mempertahankan rekomendasi beli saham ASII. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ASII dengan target harga Rp 7.050. Segmen keuangan diperkirakan tetap kuat. Begitu juga dengan MNC Sekuritas merekomendasikan beli saham ASII dengan target harga Rp 7.325 dengan mempertimbangkan segmen keuangan masih lanjutkan pertumbuhan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Erindra Krisnawan mengatakan, ASII memperkirakan peningkatan penjualan tahun ini, seiring mulai peningkatan pengiriman model hybrid Veloz dalam beberapa bulan ke depan. Volume penjualan mobil perseroan diprediksi meningkat sekitar 2% secara tahunan. Adapun pertumbuhan volume sepeda motor diperkirakan mencapai 1%.
Baca Juga
Stabilkan Harga di Pasar, Astra International (ASII) akan Buyback Saham Rp 2 Triliun
Di sisi lain, kinerja segmen pertambangan diperkirakan mendapat dukungan dari kenaikan harga komoditas. Harga emas diproyeksikan mencapai sekitar US$ 4.900 per ounce dan harga batu bara sekitar US$ 130 per ton, yang sebagian dipengaruhi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Perseroan diperkirakan mampu untuk memproduksi emas sekitar 120 ribu ounce tahun ini. Produksi batu bara diperkirakan turun menjadi 14,8 juta ton dari sebelumnya 18,2 juta ton. Sementara itu, produksi overburden dan batu bara Pama diproyeksikan menjadi sekitar 935 juta bcm dan 125 juta ton.
“Meskipun volume produksi turun, kenaikan harga emas dan batu bara diperkirakan mampu menopang laba perseroan. Estimasi laba UNTR untuk periode 2026–2027 bahkan dinaikkan sekitar 8,4% hingga 22,6%,” terangnya.
Segmen jasa keuangan Astra juga diproyeksikan tetap tumbuh solid dengan estimasi pertumbuhan laba operasional sekitar 7% pada 2026, didorong pertumbuhan pembiayaan sekitar 8% serta kualitas kredit yang relatif stabil.
Baca Juga
Preskom Prijono Sugiarto Mendadak Borong Saham Astra (ASII), Tujuan Ini Diungkap
Dengan demikian secara keseluruhan, estimasi laba bersih Astra (ASII) untuk 2026–2027 dinaikkan sekitar 2,3% hingga 7,5%, seiring kontribusi positif dari segmen pertambangan yang diperkirakan mampu menutup potensi perlambatan di bisnis otomotif.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas M Rudy Setiawan mengatakan, dengan kondisi keuangan yang stabil serta posisi merek yang kuat, saham ASII direkomendasikan dengan target harga Rp7.325. Saat ini saham, Astra International (ASII) diperdagangkan pada price to earnings (PE) sekitar 7,5 kali atau berada di bawah rata-rata historis dan menarik bagi investor.
Rekomendasi beli saham ASII juga mempertimbangkan tengah dilakukannya strategic review bersama Jardine yang hasilnya diperkirakan diumumkan pada semester pertama 2026. Hasil evaluasi tersebut diharapkan memberikan kejelasan mengenai strategi portofolio dan alokasi modal Astra ke depan.
Dari sisi industri otomotif, manajemen ASII memperkirakan pasar kendaraan di Indonesia akan tetap stabil tahun ini. Prospek tersebut didukung pertumbuhan ekonomi yang membaik, kondisi pembiayaan yang lebih kondusif, serta peluncuran model kendaraan baru.
Baca Juga
Astra International (ASII) Raup Laba Atribusi Rp 32,76 Triliun di 2025
Astra (ASII) menargetkan tetap mempertahankan pangsa pasar sekitar 50% di segmen mobil. Sementara itu, pasar sepeda motor nasional diproyeksikan mencapai 6,4-6,7 juta unit, dengan permintaan yang semakin kuat di luar Pulau Jawa.
“Adopsi kendaraan elektrifikasi yang terus meningkat dengan penetrasi mencapai 22,1% pada 2025, naik dari 11,9% pada 2024. Astra memperkirakan penetrasi kendaraan elektrifikasi dapat meningkat hingga sekitar 25% tahun ini. Hal ini didukung peluncuran model baru, termasuk Toyota Veloz Hybrid yang mendapatkan sambutan positif konsumen,” tulisnya.
Di sektor pertambangan, perseroan mencermati potensi risiko dari rencana pemerintah menurunkan kuota produksi batu bara nasional dari sekitar 800 juta ton menjadi 600 juta ton. Penurunan sekitar 25% tersebut berpotensi memengaruhi volume jasa pertambangan.

