Bitcoin Terpukul Sentimen Perang Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi, Ini Prediksi Para Analis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mempengaruhi sentimen pasar global, termasuk pasar aset kripto. Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengklaim kemenangan dalam konflik dengan Iran, namun menegaskan operasi militer akan tetap dilanjutkan, menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengatakan bahwa militer Amerika Serikat telah menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut dan udara Iran dalam waktu singkat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa operasi militer belum selesai dan Amerika Serikat akan tetap melanjutkan operasi hingga misi dianggap benar-benar tuntas.
Di sisi lain, Iran melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk menyerang kapal tanker bahan bakar di perairan Irak. Eskalasi konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan rencana pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global untuk meredam kenaikan harga.
Volatilitas harga minyak pun meningkat tajam. Harga minyak sempat menyentuh hampir US$120 per barel sebelum kembali turun ke kisaran US$ 90. Namun pada perdagangan terbaru, harga minyak kembali melonjak sekitar 5% dan kini berada di kisaran US$ 94 per barel. Pihak militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga US$ 200 per barel jika ketegangan regional terus meningkat.
Kondisi ini turut mempengaruhi pasar aset kripto, khususnya Bitcoin yang sensitif terhadap dinamika makroekonomi global. Pada perdagangan Kamis (12/3/2026) siang menunjukkan Bitcoin kembali bergerak di bawah level psikologis US$ 70.000 dan diperdagangkan di kisaran US$ 69.000-an, turun sekitar 4,8% dalam sepekan terakhir. Padahal Rabu (11/3/2026) dini hari sempat di atas US$ 71.000-an.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai, eskalasi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi menekan aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek. “Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, pasar biasanya merespons dengan menurunkan eksposur terhadap aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya dapat meningkat,” ujar Fyqieh dalam risetnya, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, kenaikan harga minyak juga dapat memicu tekanan inflasi global yang berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat. “Jika harga minyak terus naik hingga memicu inflasi yang lebih tinggi, maka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas. Suku bunga yang tetap tinggi biasanya mengurangi likuiditas di pasar dan menjadi faktor yang kurang mendukung bagi aset spekulatif seperti kripto,” jelas Fyqieh dalam risetnya Kamis (12/3/2026).
Baca Juga
Gantikan Hasan Fawzi, Ini Harapan Para Pelaku di Industri Kripto Buat Adi Budiarso
Selain faktor geopolitik dan makroekonomi, analisis teknikal juga menunjukkan potensi pelemahan jangka pendek pada harga Bitcoin. Saat ini, Bitcoin dinilai masih menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan level support penting di atas US$ 70.000.
“Secara teknikal, Bitcoin saat ini masih berada dalam struktur bearish jangka pendek setelah gagal mempertahankan level psikologis US$70.000. Jika tekanan jual berlanjut, area support berikutnya yang perlu diperhatikan berada di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 60.000,” kata Fyqieh.
Meski demikian, ia menilai volatilitas pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang berlangsung cepat, sehingga arah pergerakan pasar dapat berubah sewaktu-waktu.
“Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan global, khususnya konflik geopolitik dan dinamika kebijakan moneter. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan makro secara lebih luas karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi sentimen pasar dalam waktu singkat,” tutupnya.
Inflasi Sesuai Ekspektasi Pasar
Secara terpisah, Financial Expert Ajaib Panji Yudha menilai, pergerakan BTC hari ini merupakan respons positif pasar terhadap rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Februari yang tercatat sebesar 2,4%, sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi para analis.
Data Inflasi & Respons The Fed Inflasi inti (Core CPI) tercatat melambat menjadi 0,2% (MoM), turun dari angka Januari sebesar 0.3%. Secara tahunan (YoY), inflasi inti bertahan di angka 2,5%. Meskipun data ini membawa kelegaan sesaat, para ahli memperingatkan bahwa angka Februari belum mencerminkan dampak perang AS-Iran yang telah meroketkan harga bahan bakar dan energi belakangan ini.
Baca Juga
Inflasi AS Sesuai Perkiraan, Arah Bitcoin Kini Menunggu The Fed
Pasar kini hampir dipastikan (probabilitas 99%) melihat The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang. Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga pada bulan April merosot tajam menjadi hanya 11%, mencerminkan sikap hati-hati pasar terhadap inflasi yang masih berada di atas target 2% Fed.
"Akumulasi Institusi Tetap Agresif Tren positif di pasar ETF Bitcoin Spot semakin memperkokoh struktur harga. Melanjutkan performa impresif pekan lalu yang mencatatkan net inflow sebesar US$ 568,45 juta, aliran dana institusi tetap konsisten mengalir masuk di awal pekan ini," ujarnya.
Tercatat total net inflow kumulatif sebesar US$ 417,95 juta hanya dalam dua hari perdagangan pertama (9-10 Maret), dengan rincian suntikan dana sebesar US$ 167,03 juta (9/3/2026) dan meningkat menjadi US$ 250,92 juta (10/3/2026). Konsistensi inflow ini menjadi katalis utama yang menjaga kepercayaan diri investor di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
"Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di rentang harga US$ 69.000 hingga US$ 71.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 1.900 hingga US$ 2.200," prediksi Panji.

