PGEO Klaim Punya Keunggulan Kompetitif untuk Percepat Pengembangan Energi Panas Bumi
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) turut mengambil bagian dalam kolaborasi antara industri panas bumi dan pemerintah, untuk mengukuhkan posisi energi panas bumi sebagai energi hijau yang strategis dalam membantu agenda transisi energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Direktur Utama PGEO Julfi Hadi menegaskan bahwa upaya menciptakan ekosistem yang ideal untuk percepatan pengembangan energi panas bumi membutuhkan kapasitas yang kuat dari pengembang panas bumi.
Dikatakan, PGEO dengan keunggulan kompetitifnya mampu memberikan dukungan untuk mewujudkan ekosistem yang ideal untuk percepatan pengembangan panas bumi.
Baca Juga
Bos PGEO Sebut Percepatan Pengembangan Panas Bumi Kunci Mewujudkan NZE 2060
“PGEO memiliki sumber daya 3 GW di seluruh wilayah kerjanya yang 60%-nya merupakan aset panas bumi berkualitas tinggi. PGEO memiliki kapasitas untuk menjalankan strategi itu,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip, Kamis (19/9/2024).
Selain itu, PGEO juga berkolaborasi dengan pemerintah untuk memastikan inisiatifnya sejalan dengan agenda transisi energi nasional.
Di samping itu, Julfi menyatakan bahwa PGEO bermitra dengan sejumlah perusahaan untuk manufaktur komponen utama pembangkit listrik panas bumi seperti heat exchanger dan cooling tower guna meningkatkan kandungan lokal dan menekan biaya.
Dukungan dari pemerintah berupa insentif fiskal dan non-fiskal, serta implementasi mekanisme cost recovery, sangat penting untuk mengurangi risiko investasi awal dan mempercepat pengembanan panas bumi.
"PGEO berperan sebagai main engine dalam upaya Indonesia menuju energi bersih, tidak hanya dengan gagasan baru tetapi juga melalui tindakan nyata. Namun, PGEO dan juga Pertamina tidak bisa bekerja dan menyelesaikan semua tantangan tersebut sendiri. Kami berharap semua pemangku kepentingan dapat berkolaborasi bersama-sama," jelas Julfi Hadi.
Baca Juga
Bursa Karbon Sepi Transaksi, BEI: Pajak Karbon Belum Diterapkan
Sebagai catatan, Julfi Hadi menyampaikan bahwa panas bumi memiliki karakteristik unggul sebagai pemikul beban dasar kelistrikan (baseload energy) yang menjadikannya ideal untuk menggantikan sumber energi konvensional. Namun, baru sekitar 2,6 GW atau 11% dari sumber daya yang sudah dikembangkan.
Padahal, untuk mencapai target kapasitas 10,5 GW pada 2035 sesuai dengan target bauran energi nasional, dibutuhkan penambahan kapasitas 700-800 MW setiap tahun.Oleh sebab itu, tantangan utamanya adalah keekonomian proyek panas bumi.
“Pengembangan energi panas bumi di Indonesia perlu strategi khusus untuk meningkatkan daya tarik komersial tanpa menaikkan harga jual listrik yang telah ditentukan pemerintah. Adopsi teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi serta skala operasi yang lebih besar diperlukan untuk menurunkan biaya dan membuat proyek pengembangan lebih layak secara ekonomi,” pungkasnya. (CR-4)
Grafik Harga Saham PGEO:

