Waspada! 4 Fakta Mengapa Lonjakan Harga Minyak Bisa Tekan Dompet Investor Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah di tengah tekanan pasar global setelah harga minyak melonjak tajam dan futures saham Amerika Serikat turun signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kripto dan mata uang kripto masih sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi, terutama ketika konflik geopolitik mulai memengaruhi energi, inflasi, dan aset berisiko.
Bagi investor pemula maupun yang sudah berpengalaman, situasi ini penting dipahami karena pergerakan Bitcoin kini semakin sering bergerak seiring dengan dinamika pasar global.
1. Harga Bitcoin Turun ke Area Rp 1,13 Miliar
Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$ 66.456 atau sekitar Rp 1,13 miliar dengan kurs 1 USD = Rp 16.987. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu tercatat turun sekitar 1,7%, meski secara mingguan masih menguat tipis sekitar 1,4%.
Dalam jangka waktu satu bulan, Bitcoin juga tercatat melemah sekitar 7,3%, menandakan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya hilang. Koreksi ini memperlihatkan bahwa meski Bitcoin sering disebut sebagai aset alternatif, pergerakannya tetap terpengaruh oleh sentimen global yang menekan pasar mata uang kripto secara umum.
Baca Juga
Stok Tinggal 1 Juta, Bitcoin Pekan Ini Sudah Ditambang 20 Juta
2. Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama Tekanan Pasar
Salah satu penyebab utama pelemahan Bitcoin datang dari lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Melansir dari Pintu, Senin (9/3/2026), West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 18% ke atas US$ 107 per barel atau sekitar Rp 1,82 juta, sedangkan Brent naik sekitar 16% ke kisaran US$ 108 per barel atau sekitar Rp 1,83 juta.
Kenaikan ini penting karena minyak merupakan komponen biaya utama dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi global. Saat harga energi melonjak, pasar mulai khawatir terhadap inflasi yang lebih tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham teknologi, kripto, dan mata uang kripto cenderung mengalami tekanan jual.
Agar lebih ringkas, berikut angka penting yang menjadi sorotan pasar:
Bitcoin (BTC): US$ 66.456 ≈ Rp 1,13 miliar
WTI crude: US$ 107 ≈ Rp 1,82 juta per barel
Brent crude: US$ 108 ≈ Rp 1,83 juta per barel
Baca Juga
Harga Minyak Tertinggi Sejak 2022, Bitcoin Terkoreksi di Awal Pekan
3. Futures Saham AS Anjlok, Sentimen Risk-Off Menguat
Tekanan di pasar tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga pada futures saham Amerika Serikat. Futures Dow Jones turun lebih dari 800 poin atau sekitar 1,7%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing turun sekitar 1,5% sebelum sesi perdagangan dimulai.
Penurunan ini menunjukkan bahwa investor sedang mengurangi eksposur pada aset yang dianggap lebih berisiko. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin sering ikut terkena tekanan karena banyak pelaku pasar memperlakukannya sebagai aset spekulatif, bukan sepenuhnya sebagai penyimpan nilai yang terpisah dari pasar tradisional.
Hubungan ini semakin relevan dalam beberapa tahun terakhir karena pasar kripto makin terintegrasi dengan sentimen makro. Ketika investor global menghindari risiko, pergerakan Bitcoin cenderung mengikuti arah saham, terutama saat kekhawatiran inflasi dan suku bunga kembali meningkat.
4. Bitcoin Masih Relatif Stabil, tetapi Risiko Belum Hilang
Meski berada di bawah tekanan, Bitcoin sempat menunjukkan daya tahan yang cukup baik dibanding pasar tradisional. Aset ini sempat turun di bawah US$ 66.000 atau sekitar Rp 1,12 miliar, tetapi kemudian mampu pulih sebagian, menandakan bahwa pelaku pasar mungkin sudah mulai menyerap guncangan awal dari sentimen geopolitik tersebut.
Namun, stabilitas jangka pendek itu belum berarti risiko telah berlalu. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan, kekhawatiran inflasi dapat meningkat dan mendorong bank sentral menunda pemangkasan suku bunga, yang pada akhirnya dapat memperketat kondisi likuiditas bagi pasar kripto.
Bagi Anda yang memantau Bitcoin, fokus utama saat ini bukan hanya konflik geopolitik, melainkan bagaimana dampaknya terhadap energi dan ekspektasi kebijakan moneter. Selama harga minyak tetap tinggi dan pasar saham masih tertekan, volatilitas Bitcoin dan aset mata uang kripto lain kemungkinan tetap akan besar.

