IHSG Dibuka Anjlok 4,92% Pagi Ini, Waspadai Trading Halt!
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/3/2026), dibuka anjlok lebih 370 poin 4,92%) menjadi 7.211 hanya dalam lima menit transaksi. Penurunan dipicu atas kejatuhan seluruh pasar saham global.
Dengan kejatuhan tersebut, BEI mewaspadai trading halt (penghentian sementara) perdagangan saham. Berdasarkan ketentuan trading halt pertama diambil, jika IHSG turun sampai 8%.
Pelemahan indeks kali ini dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham, di antaranya sektor material dasar, energi, industry, konsumer non primer, sektor konsumer primer, property, keuangan, teknologi.
Baca Juga
Pasar Khawatir Dampak Perang Iran, Dow Futures Ambles Lebih dari 800 Poin
Penurunan dipicu atas kejatuhan sejumlah saham big cap, seperti BREN, TPIA, BBCA, DSSA, MORA, RATU.CBDK, PANI, dan FILM. Pelemahan juga datang dari saham RLCO, EMAS, UANG, AMMN.
Meski IHSG jatuh, sejumlah saham berikut catatkan kenaikan harga pesat, seperti saham KJEN naik 18,75% menjadi Rp 171, SICO menguat 9,42% menjadi Rp 150, dan KOKA naik 10% menjadi Rp 286.
Pekan lalu, IHSG mencatatkan penurunan dalam sebanyak 649,79 poin (7,89%) menjadi 7.585,68 sepanjang pekan ini atau periode 2-6 Maret 2026. Kapitalisasi pasar menguap hingga Rp 1.161 triliun atau turun 7,33%.
Baca Juga
Harga Minyak Tembus US$ 100, Produsen Timur Tengah Pangkas Produksi Imbas Perang Iran
Sebaliknya pemodal asing justru mempertahankan pembelian bersih (net buy) saham di seluruh pasar senilai Rp 2,22 triliun pekan ini. Realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya senilai Rp 4,90 triliun.
Data BEI mengungkap penekan utama indeks pekan ini datang dari pelemahan sejumlah saham big cap, seperti AMMN turun 19,93%, BBRI melemah 6,14%, TLKM sebanyak 9,89%, FILM 47,38%, BRMS sebanyak 17,53%, BRPT mencapai 21,86%, BMRI sebanyak 5,59%, dan ASII mencapai 8,24%.
Pelemahan indeks juga dipicu kejatuhan seluruh sektor saham di BEI pekan ini, seperti sektor consumer primer 14,73%, sektor transportasi melemah 12,05%, material dasar anjlok 11,46%, industry 11,09%, infrastruktur 9,32%, property 8,97%, teknologi 8,27%, dan sektor keuangan anjlok 5,46%.

