Krisis Timur Tengah Ancam Pasokan Energi Dunia, Berkah bagi Saham AADI hingga ITMG?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penutupan selat Hormuz oleh Iran setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel bisa mengganggu pasokan energi global. Hal ini bisa menjadi angin segar terhadap komoditas energi di luar minyak dan gas (migas), seperti batu bara.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan kemarin menyebutkan bahwa risiko tersebut bisa memicu tambahan permintaan batu bara global sebanyak 40–268 juta ton, apabila gangguan pasokan energi ini berlanjut selama beberapa pekan ke depan.
Gangguan pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah bisa mendorong kenaikan harga minyak dan gas, sehingga pembangkit listrik di India, Asia Tenggara, dan sebagian Eropa beralih ke sumber energi batu bara sebagai substitusi energi.
Baca Juga
Iran Tutup Selat Hormuz di Tengah Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
Berdasarkan perhitungan BRI Danareksa Sekuritas gangguan energi jangka pendek dapat meningkatkan permintaan batu bara termal global sebesar 40–55 juta ton atau sekitar 0,5% dari total permintaan global. Dalam scenario Panjang, tambahan permintaan dapat mencapai lebih dari 91 juta ton atau sekitar 1,1% dari permintaan global.
Adapun apabila guncangan energi berkepanjangan, lonjakan permintaan batu bara dunia diperkirakan melampaui 180 juta ton atau lebih dari 2,1% dari total permintaan batu bara global.
“Kenaikan permintaan ini juga berpotensi mengerek naik harga batu bara global. Pada skenario ringan, harga batu bara Newcastle bisa mencapai US$ 130–150 per ton. Sementara itu, harga ICI3 berpotensi naik menjadi US$ 75–80 per ton dan ICI4 ke level US$ 55–60 per ton,” tulis riset tersebut.
Jika gangguan pasokan energi meningkat dan pasar LNG semakin ketat, harga Newcastle berpotensi bergerak ke kisaran US$ 150–175 per ton. Pada skenario gangguan berkepanjangan, harga batu bara bisa melonjak signifikan dengan perkiraan harga Newcastle mencapai US$ 200–250 per ton.
Baca Juga
Iran Klaim Serang Kapal Tanker dengan Rudal, Harga Minyak Melonjak Lagi
Di lain sisi, Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia berencana memperketat produksi pada 2026. Produksi batu bara domestic mencapai 790 juta ton pada 2025. Mencapai 65% diekspor dan 32% dialokasikan untuk kebutuhan domestik melalui kebijakan domestic market obligation (DMO).
Adapun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengindikasikan target produksi tahun ini turun menjadi 600 juta ton. Target tersebut menunjukkan penurunan sekitar 24% dari kuota RKAB sebelumnya. “Meski kebijakan ini belum resmi diterapkan, rencana pembatasan produksi telah mengurangi likuiditas di pasar spot dan mendukung kenaikan harga batu ba dalam beberapa pekan terakhir,” tulisnya.
Pembatasan produksi bisa memicu kekurangan pasokan ekspor batu bara Indonesia sebanyak 45-96 juta ton yang tentu bisa mengerek naik harga global. Seiring dengan potensi kenaikan tersebut, prospek sektor batu bara dinilai semakin menarik.
Baca Juga
Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi dalam Setahun, Prospek Saham Emiten Sektor Ini Menguat
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas Riset merevisi naik peringkat saham sektor batu bara menjadi overweight (OW). Adapun saham pilihan utama adalah AADI sebagai penerima manfaat utama dari kenaikan harga batu bara. Pilihan teratas juga didukung proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba AADI bakal lebih pesat periode 2026-2028.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham AADI dengan target harga masih under review. Saham ADRO dengan target harga Rp 2.630, ITMG dengan target harga Rp 26.500, PTBA target harga Rp 3.100, dan UNTR dengan target harga Rp 32.000.

