Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi dalam Setahun, Prospek Saham Emiten Sektor Ini Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Harga batu bara dunia terus melonjak dengan kenaikan lebih dari 7,23% menjadi US$ 138 per ton untuk kontrak perdagangan April 2026 dalam sehari terakhir. Kenaikan tersebut ditopang atas peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah setelah AS-Israel menyerang Iran.
Berdasarkan data Tradingeconomics, harga batu bara telah melesat lebih dari 20% menjadi US$ 138 per ton dalam sebulan terakhir Sedangkan kenaikan dalam setahun terakhir telah mencapai 36% ke level tertinggi baru lebih dari setahun terakhir US$ 138 per ton.
Seiring dengan kenaikan harga batu bara ini, saham beberapa emiten batu bara berhasil catatkan kenaikan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data kenaikan tertinggi dicatatkan saham AADI dengan kenaikan lebih dari 18% dalam sepekan terakhir.
Baca Juga
Laba Bayan (BYAN) Turun Jadi US$ 784,1 Juta di 2025, Target Tahun Ini Diungkap
Kenaikan juga dicatatkan saham ITMG lebih dari 10%, PTBA menguat lebih dari 12%, saham ADMR menguat lebih dari 5,45%, saham GEMS naik 4,29%. Sebaliknya saham BUMI dan BYAN masih catatkan penurunan dalam sepekan terakhir.
Faktor utama kenikan harga batu bara ini ditopang atas penutupan langka fasilitas liquefied natural gas (LNG) di Qatar mendorong peningkatan permintaan bahan bakar alternatif di sektor pembangkit listrik.
Lonjakan harga juga dipicu atas serangan drone Iran terhadap pusat ekspor utama LNG Qatar, yang menandai eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Fasilitas tersebut memasok sekitar 20% kebutuhan LNG global dan belum pernah menghentikan operasi secara penuh dalam 30 tahun terakhir.
Baca Juga
Apindo Soroti Dampak Sosial Pemangkasan Produksi Nikel dan Batu Bara 2026
Gangguan ini memicu kekhawatiran pasokan energi global, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada LNG Qatar. Taiwan mengindikasikan kemungkinan meningkatkan pembangkit listrik berbasis batu bara apabila gangguan pasokan LNG berlanjut.
Di sisi lain, ekspektasi permintaan global yang tetap kuat mengimbangi tren transisi energi bersih. China, sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar dunia, terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara guna menjaga ketahanan energi dan stabilitas jaringan listrik.
Kondisi ini memperkuat sentimen bullish di pasar batu bara global, dengan pergeseran sementara dari gas ke batu bara (fuel switching) menjadi faktor utama pendorong harga dalam jangka pendek.

