Bitcoin Sempat Bangkit ke US$ 70.000 di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Pasar Derivatif Masih Hati-Hati
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) melonjak hingga sempat menyentuh level US$70.000 pada perdagangan Senin (2/3/2026) pukul 23.45 WIB, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski sempat tertekan hingga US$ 63.000, data on chain menunjukkan pemegang jangka pendek tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan seperti yang terjadi pada periode sebelumnya.
Berdasarkan data CryptoQuant, metrik laba/rugi pemegang jangka pendek atau short term holders (STH) ke bursa menunjukkan penurunan signifikan arus transfer dalam kondisi rugi. Pada 1 Maret, kerugian yang terealisasi tercatat hanya sekitar 3.700 BTC, jauh lebih rendah dibandingkan lonjakan distribusi pada awal Februari.
Sebagai perbandingan, pada 5-6 Februari, pemegang STH mengirim sekitar 89.000 BTC ke bursa dalam posisi rugi hanya dalam 24 jam. Periode tersebut menandai fase kapitulasi pasar, ketika tekanan jual meningkat tajam akibat volatilitas tinggi.
Analis kripto MorenoDV menyebut kondisi saat ini menunjukkan “nol kepanikan” dari kelompok investor yang biasanya paling sensitif terhadap gejolak pasar. "Perlambatan arus masuk ke bursa dari pemegang jangka pendek mengindikasikan tekanan jual dari pembeli baru mulai mereda," ujarnya melansir Cointelegraph, Selasa (3/2/2026).
Namun demikian, reli lanjutan Bitcoin dinilai tetap bergantung pada stabilitas kondisi geopolitik. Jika ketidakpastian meningkat dan kerugian terealisasi kembali melonjak mendekati level kapitulasi sebelumnya, volatilitas berpotensi kembali membesar.
Di sisi derivatif, data menunjukkan pasar sedang mengalami fase deleveraging. Analis Darkfost mencatat open interest Bitcoin di Binance turun menjadi 97.680 BTC dari 130.800 BTC sejak awal tahun, atau terkoreksi sekitar 25%. Penurunan ini menandakan berkurangnya eksposur leverage di pasar futures.
Baca Juga
Bitcoin Dinilai Sulit Jadi Mata Uang Global, Ini Pandangan Co Founder Wikipedia
Rasio leverage yang diperkirakan, yakni perbandingan open interest terhadap cadangan BTC di bursa, turun ke rata-rata mingguan 0,146. Secara historis, level di bawah 0,15 kerap bertepatan dengan fase deleveraging agresif dalam siklus pasar saat ini.
Dari sisi teknikal, Bitcoin kini berupaya merebut kembali posisi di atas indikator Monthly Rolling Volume-Weighted Average Price (RVWAP) yang berada di kisaran US$68.000. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, rata-rata peserta pasar bulanan kembali berada dalam posisi untung, yang berpotensi memperkuat sentimen jangka pendek. Pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan respons pelaku pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, permintaan kontrak berjangka Bitcoin turun ke level terendah sejak 2024, memicu kekhawatiran bahwa investor institusional mulai meninggalkan pasar kripto. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan harga BTC sejak menyentuh level US$ 63.000 pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan data pasar derivatif, open interest agregat futures Bitcoin di berbagai bursa utama turun menjadi sekitar US$ 32 miliar pada Minggu, atau merosot 20% dibandingkan sebulan sebelumnya. Jika diukur dalam denominasi Bitcoin untuk menyesuaikan fluktuasi harga, open interest kini berada di kisaran 491.300 BTC, terendah sejak Agustus 2024.
Penurunan tersebut sebagian dipicu oleh likuidasi paksa posisi long investor bullish saat harga terkoreksi tajam. Sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.200 pada Oktober 2025, minat terhadap posisi bullish dengan leverage terus menyusut.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari premi tahunan (basis rate) kontrak futures bulanan Bitcoin yang turun ke 2%, level terendah dalam setahun. Dalam kondisi pasar netral, premi biasanya berada di kisaran 5%–10% untuk mengompensasi tenor kontrak yang lebih panjang. Basis rate yang gagal bertahan di zona bullish selama 12 bulan terakhir, termasuk saat reli 50% pada April–Mei 2025, menambah kekhawatiran pelaku pasar.
Baca Juga
Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan bahwa investor institusional belum sepenuhnya angkat kaki. Volume perdagangan ETF Bitcoin spot masih mencatat rata-rata lebih dari US$3 miliar per hari, dengan partisipasi manajer investasi besar dan dana pensiun global.
Di sisi lain, data menunjukkan lebih dari US$79 miliar Bitcoin disimpan oleh perusahaan publik, termasuk Strategy, MARA Holdings, XXI, dan Metaplanet. Sejumlah negara seperti Bhutan, El Salvador, dan Uni Emirat Arab juga dilaporkan menambah eksposur terhadap Bitcoin.
Dari sisi opsi, pasar menunjukkan kondisi relatif stabil. Rasio premi put-to-call Bitcoin berada di sekitar 0,7 pada Senin, mengindikasikan permintaan opsi jual lebih rendah dibanding opsi beli. Lonjakan singkat permintaan strategi bearish pada akhir pekan tidak berlanjut, dan tidak terlihat tekanan ekstrem di pasar opsi.
Sementara itu, nilai open interest futures Bitcoin di CME masih bertahan di sekitar US$7,5 miliar, yang kerap dianggap sebagai indikator partisipasi institusional. Dalam struktur pasar derivatif, setiap posisi short harus diimbangi posisi long, menjaga keseimbangan likuiditas.
Analis menilai pelemahan permintaan leverage lebih mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah ketidakpastian global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketimbang eksodus besar-besaran institusi.
Bitcoin saat ini masih diperdagangkan sekitar 45% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa. Meski belum ada kepastian apakah level US$ 60.000 menjadi titik terendah siklus ini, pasar kripto global yang bernilai sekitar US$ 1,4 triliun dinilai tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan volatilitas. Selasa (3/2/2026) pukul 06.55 WIB BTC tengah menguat 4,67% dalam sehari ke posisi US$ 68.772 dan sepekan naik 6,54%.

