Perkuat Posisi, VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) Kuasai 30% Bus Listrik Transjakarta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) makin menegaskan dominasinya di industri kendaraan listrik komersial nasional. Di segmen bus listrik Transjakarta, VKTR kini menguasai sekitar 30% pangsa pasar armada listrik dan masuk tiga besar pemasok utama.
“Target kami jelas, yaitu menjadi pionir kendaraan listrik komersial yang tangguh, sekaligus mendorong transisi transportasi nasional ke arah lebih bersih. Saat ini, hampir sepertiga armada bus listrik Transjakarta sudah menggunakan produk kami,” ujar Chief Executive Officer (CEO) VKTR, A Ardiansyah Bakrie dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Menurut Ardi, VKTR tahun lalu berhasil menjual 69 unit kendaraan listrik, meliputi 53 bus, 10 truk, dan 6 forklif. Secara kumulatif, sejak berdiri hingga akhir 2025, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham VKTR itu telah membukukan penjualan 135 bus, 24 truk, dan 13 forklif.
Baca Juga
Direktur & Chief Operating Officer (COO) VKTR, V Bimo Kurniatmoko menambahkan, penjualan yang terus meningkat menunjukkan pasar domestik semakin menerima kendaraan listrik komersial. “Selain Transjakarta, pelanggan datang dari sektor pertambangan, swasta, hingga pemerintah daerah,” tutur dia.
Selain itu, kata Bimo, VKTR memperluas lini produknya ke segmen daur ulang sampah untuk dijadikan energi (waste-to-energi/WTE). Beberapa truk listrik akan digunakan untuk pengangkutan sampah yang diolah menjadi energi listrik, sekaligus mendukung program pengurangan emisi karbon.
Direktur dan Chief Financial & Risk Officer VKTR, A Amri Aswono Putro mengungkapkan, VKTR mencatatkan pertumbuhan finansial yang solid sepanjang 2025.
Baca Juga
VKTR Day Dorong Penguatan Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional
Amri menjelaskan, pendapatan VKTR naik 8,5% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1,09 triliun dibanding Rp 1 triliun pada 2024. Laba kotor meningkat 10,4% (yoy) menjadi Rp 197 miliar dibanding pada 2024 yang mencapai Rp 178 miliar. Adapun total aset tumbuh 11,8% (yoy) menjadi Rp 1,79 triliun.
“Pertumbuhan laba kotor yang lebih tinggi dari pendapatan menandakan penguatan margin, khususnya di segmen kendaraan listrik. Ini bukti bahwa strategi penetapan harga kami berhasil,” tegas dia.
Liabilitas VKTR, menurut Amri Aswono, meningkat menjadi Rp 553 miliar sejalan dengan tambahan pinjaman untuk modal kerja. “Namun, hal ini tetap terkendali dan sejalan dengan pertumbuhan pesanan kendaraan listrik,” papar dia.
Bimo Kurniatmoko mengemukakan, memasuki 2026, VKTR menggeser fokus ke fase komersialisasi. Perusahaan sudah mengantongi purchase order bus listrik dari pengembang properti di Jakarta dan transportasi antarkota di Malang.
Selain itu, kata dia, VKTR tengah memproduksi 2 unit shuttle bus listrik untuk institusi pendidikan di Jawa Tengah, dengan pengiriman dijadwalkan pada kuartal II-2026.
Baca Juga
“Tahun 2026 menjadi tahun akselerasi. Kami ingin memperluas pangsa pasar dan menyeimbangkan portofolio dari bus ke truk listrik agar bisa menjangkau pasar lebih besar,” ucap dia.
Bimo mengatakan, segmen kendaraan listrik diproyeksikan menjadi kontributor utama pendapatan tahun ini, terutama dengan rampungnya proyek Transjakarta 30 unit yang tersisa.
“Dengan fondasi teknologi yang makin kuat, VKTR menargetkan profitabilitas berkelanjutan melalui efisiensi produksi dan penguatan margin,” tandas dia.
Ardiansyah Bakrie menegaskan, VKTR juga menekankan aspek keberlanjutan. Hingga Desember 2025, armada bus listrik telah menempuh total 14,8 juta km, menekan emisi hingga 13 ribu ton CO₂, setara dengan penanaman sekitar 600 ribu pohon.
“Kami tidak hanya menghadirkan kendaraan listrik, tapi juga solusi mobilitas yang ramah lingkungan. Setiap unit bus dan truk listrik VKTR berkontribusi nyata terhadap pengurangan emisi nasional,” ujar dia.

