IHSG Anjlok 1,05% ke 8.235, Tarif Impor AS 104% Picu Aksi Jual Saham Big Cap
JAKARTA, investortrust.id –Keputusan Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor sebanyak 104% untuk produksi sel dan solar panel asal Indonesia menjadi factor utama penekan utama indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (26/2/2026).
Peningkatan tekanan eksternal yang memicu aksi jual di saham-saham berkapitalisasi besar. Hal ini memicu IHSG tergerus 86,97 poin atau 1,05% ke level 8.235 dengan nilai transaksi mencapai Rp 22,46 triliun. Bahkan, IHSG sempat tergerus lebih dari
Baca Juga
Intip Kinerja Laba Bank-Bank Himbara di 2025, Siapa yang Paling Melesat?
Tekanan indeks terutama berasal dari penurunan sejumlah saham big cap seperti PTRO, PANI, RAJA, RATU, UNTR, MORA, BUVA, SOHO, hingga PGUN. Pelemahan juga terjadi pada saham emiten Prajogo Pangestu, yakni BRPT dan CDIA, yang turut membebani pergerakan indeks.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai pasar bereaksi negatif terhadap pengumuman tarif impor dari Amerika Serikat sebesar 104% untuk sel dan solar panel asal Indonesia.
“Kebijakan ini merupakan bagian dari eskalasi perang dagang (Trade War 2.0) yang memicu kekhawatiran akan penurunan volume ekspor dan tekanan pada neraca dagang nasional,” ujar Azharys saat dihubungi investortrust.id, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 341,25 Miliar, Asing Borong Saham NCKL hingga BBRI
Sentimen tersebut memicu aksi jual pada saham-saham blue-chip dan sektor terkait ekspor, mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Investor pun cenderung melakukan de-risking di tengah ketidakpastian regulasi global.
Secara teknikal, Azharys menyebut IHSG sempat menyentuh level support kuat di 8.154 pada perdagangan hari ini. Namun, tekanan jual dinilai belum sepenuhnya mereda dan indeks masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada sesi berikutnya.
Di sisi lain, sentimen korporasi juga mencuri perhatian pasar. Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) resmi masuk sebagai kandidat kuat dalam proyek strategis FSRU (Floating Storage Regasification Unit) milik PLN. Keterlibatan dalam infrastruktur energi nasional tersebut dinilai menjanjikan backlog kontrak jangka panjang yang stabil serta meningkatkan visibilitas pendapatan ke depan.

