Pendiri Ethereum Vitalik Buterin Sumbang ETH Senilai US$ 2,4 Juta ke Teknologi Anti-Penuaan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pendiri Ethereum Vitalik Buterin baru-baru ini mengungkapkan pandangannya tentang masa depan di mana terapi anti-penuaan akan membuat orang-orang terkejut bahwa kematian akibat usia tua pernah dianggap normal. Buterin, yang dikenal dengan optimisme teknologinya dan pemikiran jangka panjang, telah lama menjadi pendukung penelitian untuk memperpanjang usia dan kesehatan manusia.
Vitalik Buterin, salah satu pendiri Ethereum (ETH), telah menyumbangkan sekitar US$ 2,4 juta dalam bentuk Ethereum (ETH) kepada SENS Research Foundation. Yayasan ini berfokus pada penelitian biomedis untuk terapi peremajaan. Buterin percaya bahwa penuaan adalah masalah yang dapat dicegah dan telah menyatakan bahwa ini adalah salah satu masalah terbesar yang dihadapi umat manusia.
Pada tahun 2020, Buterin memprediksi bahwa akan ada pergeseran menuju bioteknologi dengan tujuan akhir untuk memperpanjang rentang hidup yang sehat dan mengakhiri penuaan sepenuhnya. Melansir dari Pintu, Kamis (12/11/2025), dalam sebuah penampilan podcast pada tahun 2021, ia membayangkan sebuah masa depan di mana konsep kematian karena usia tua akan perlahan menghilang dari kesadaran publik.
Buterin tidak sendirian dalam usahanya melawan penuaan. Bryan Johnson, pendiri Kernel dan Braintree, menjalankan program anti-penuaan yang sangat dipublikasikan yang dikenal sebagai “Project Blueprint.” Program ini melibatkan diet ketat, suplemen, dan biomarker untuk memperpanjang umur dan kesehatan.
Peter Thiel, miliarder dan investor kripto terkemuka, telah menginvestasikan jutaan dolar dalam penelitian longevitas melalui yayasan seperti Methuselah Foundation. CEO OpenAI, Sam Altman, juga telah aktif berinvestasi dalam penelitian longevitas, menunjukkan tren yang berkembang di kalangan eksekutif teknologi yang mendukung penelitian ini.
Lebih lanjut, perpanjangan umur dan peningkatan kesehatan yang signifikan dapat memiliki dampak besar pada struktur sosial dan ekonomi. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, sistem pensiun dan perawatan kesehatan mungkin perlu diadaptasi untuk menangani populasi yang lebih tua yang lebih besar dan lebih sehat.
Selain itu, penelitian anti-penuaan juga menimbulkan pertanyaan etis dan filosofis tentang kualitas hidup dan distribusi sumber daya. Apakah semua orang akan memiliki akses yang sama terhadap terapi ini?. Lalu agaimana masyarakat akan menangani ketidaksetaraan yang mungkin timbul dari perbedaan akses ini?.
Dengan kemajuan teknologi dan penelitian biomedis, visi untuk mengakhiri penuaan mungkin tidak lagi hanya menjadi fantasi. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya teknis tetapi juga etis dan sosial. Masa depan di mana penuaan bukan lagi bagian dari kehidupan manusia mungkin sudah di depan mata, tetapi jalan menuju sana akan memerlukan kerja sama global dan pertimbangan mendalam.

