Raharja Energi (RATU) Proyeksikan Laba Meningkat Signifikan Pacsa-Akuisisi PI Blok Madura
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Manajemen PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) meyakini akan ada tambahan kontribusi laba yang signifikan setelah akuisisi 20% kepemilikan kontrak atau participating interest (PI) di Blok Madura rampung.
Direktur Utama Raharja Energi Cepu, Sumantri mengatakan, masuknya kepemilikan di Blok Madura dapat memberi dampak finansial langsung bagi perseroan mulai 2026.
Ia menambahkan, dalam tiga tahun terakhir kinerja Blok Madura menunjukkan profitabilitas yang solid. Kontribusinya terhadap perseroan diperkirakan berada dalam kisaran yang mendekati kontribusi aset Cepu saat ini.
“Tentu Blok Madura akan punya dampak langsung, karena begitu kami masuk, economic interest sejak 1 Januari 2026 sudah menjadi hak kami. Jumlahnya signifikan. Secara keuangan, saya rasa sumbangannya akan mendekati sumbangan dari Blok Cepu terhadap kepemilikan kita,” papar Sumantri dalam diskusi virtual ‘Potensi Emiten RATU di Era Ketahanan Energi’, Sabtu (21/2/2026).
Baca Juga
Target Harga Saham Raharja Energi (RATU) Rp 20.000, Penopang Akuisisi hingga Ekosistem Barito
Perseroan, menurut Sumantri, tengah memproses akuisisi 20% kepemilikan di Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). HCML merupakan perusahaan patungan yang melibatkan perusahaan asal China yakni CNOOC, perusahaan asal Kanada, yaitu Husky, dan sebelumnya Samudra Energy yang kini dimiliki entitas Singapura.
Akuisisi tersebut dimenangi RATU melalui proses tender pada akhir 2025. Penandatanganan perjanjian jual beli saham (share sale purchase agreement/SSPA) telah dilakukan, dengan target penyelesaian transaksi pada Mei 2026 setelah memperoleh persetujuan pemegang saham.
Gelar RUPSLB Mei 2026
Sumantri menjelaskan, sesuai regulasi pasar modal, transaksi dengan nilai lebih dari 50% modal bersih perusahaan wajib memperoleh persetujuan pemegang saham. Karena itu, manajemen akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) sekitar Mei 2026 untuk meminta restu atas akuisisi 20% HCML.
Meski demikian, kata dia, struktur perjanjian telah mengatur bahwa economic interest atas 20% PI di Blok Madura berlaku efektif sejak 1 Januari 2026. “Artinya, apabila transaksi efektif ditutup pada Mei, kontribusi keuangan dari Blok Madura berpotensi mulai tecermin dalam laporan keuangan semester I-2026,” ujar Sumantri.
Dia mengungkapkan, model bisnis RATU relatif sederhana, yakni memiliki saham atau participating interest di blok migas, baik secara langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect).
Seperti halnya Blok Cepu, kontribusi dari Blok Madura diperkirakan masuk dalam pos pendapatan lainnya, mengingat skema kepemilikannya bersifat indirect melalui perusahaan patungan (joint venture).
“RATU ini model bisnisnya sederhana, baik direct maupun indirect, hanya berbeda pada mekanisme cash flow dan pencatatan. Yang direct membukukan revenue proporsional, sementara yang indirect melalui dividen,” tutur Sumantri.
Baca Juga
Top 10 Gainer Saham Sepekan: INDS Melonjak 105%, RATU dan ROCK Ikut Melejit
Dia mengatakan, RATU saat inibekerja di tiga aset utama. Pertama, Blok Jabung atau Tanjung Jabung, RATU memegang 8% direct participating interest dengan operator PetroChina. Mitra lain di antaranya Petronas, Pertamina, dan GPI Jabung Indonesia.
“Karena bersifat direct PI, RATU dapat membukukan pendapatan secara proporsional langsung ke laporan keuangan. Misal pendapatan blok Jabung mencapai US$ 100 juta, maka RATU mencatat US$ 8 juta sesuai porsi kepemilikan,” papar Mantri.
Aset kedua adalah Blok Cepu dengan kepemilikan sebesar 2,24%, dilakukan secara tidak langsung melalui joint venture dengan BUMD Jawa Timur. Perseroan memiliki 49% saham di JV tersebut. “Kontribusi Cepu tidak tercatat sebagai revenue langsung, melainkan masuk sebagai dividen dan tercermin dalam pos other income,” ucap dia.
Hingga kuartal III-2025, RATU membukukan laba bersih sebesar US$ 11,9 juta dari pendapatan US$ 37,61 juta.

