Wacana Pembukaan Kode Broker di BEI Bisa Perkuat Transparansi Pasar Modal
JAKARTA, investortrust.id – Wacana pembukaan kembali kode broker secara real-time dinilai sebagai langkah maju dalam mendorong transparansi pasar modal Indonesia. Pasar saham pada dasarnya bertumpu pada kepercayaan, yang hanya dapat terbentuk jika seluruh pelaku pasar memperoleh akses informasi yang setara.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai keterbukaan kode broker bukan untuk mengarahkan keputusan investor, melainkan menyediakan data memadai agar investor dapat mengambil keputusan secara rasional dan terinformasi.
“Bursa idealnya berperan sebagai penyedia infrastruktur dan informasi, bukan sebagai penentu bagaimana investor harus bersikap di pasar,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Senin (9/2/2026).
Baca Juga
IHSG Melesat 100 Poin Lampaui Level 8.100 dalam Sejam Transaksi, Saham EMAS kembali Perkasa
Menurut Hendra, keterbatasan akses data transaksi real-time selama ini memperlebar asimetri informasi, terutama antara investor bermodal besar dan investor ritel. Investor dengan sumber daya kuat masih dapat membaca arah transaksi melalui berbagai metode, sementara investor ritel kerap berspekulasi dengan informasi yang tidak utuh. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar kurang efisien.
Dengan dibukanya kembali kode broker secara real-time, proses pembentukan harga (price discovery) dinilai dapat berlangsung lebih sehat. Pelaku pasar dapat menilai apakah pergerakan harga dipicu akumulasi, distribusi, atau sekadar volatilitas jangka pendek.
Terkait kekhawatiran munculnya perilaku ikut-ikutan (herd behavior), Hendra menilai hal itu lebih berkaitan dengan tingkat literasi dan kedewasaan investor, bukan pada keterbukaan data.
Kredibilitas Bursa
Di pasar maju, transparansi menjadi pilar utama pengawasan. Investor memperoleh akses informasi seluas mungkin, sementara regulator fokus memastikan tidak terjadi manipulasi, insider trading, maupun transaksi tidak wajar.
“Artinya, yang diatur adalah perilaku yang melanggar aturan, bukan preferensi atau strategi investasi masing-masing pelaku pasar,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, keterbukaan data transaksi diyakini dapat meningkatkan kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasar yang transparan dinilai lebih dipercaya investor institusi global yang membutuhkan visibilitas jelas terkait likuiditas dan struktur transaksi.
Baca Juga
Sistem Disiapkan, BEI Bakal Buka Kode Domisili Dilanjutkan Kode Broker?
“Jika tujuan besar BEI adalah memperdalam pasar dan menarik dana jangka panjang, maka transparansi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Bursa yang terlalu protektif terhadap informasi justru berisiko menimbulkan persepsi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan,” terang Hendra.
Ia menambahkan, wacana pembukaan kode broker real-time perlu ditempatkan dalam kerangka pengembangan pasar modal yang modern dan matang, dengan pengawasan kuat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta penegakan aturan yang konsisten.
Baca Juga
Pantau Reformasi Pasar Modal, FTSE Russell Tunda Evaluasi Saham Indonesia Mirip Keputusan MSCI
“Dengan pengawasan yang kuat dari OJK dan penegakan aturan yang konsisten, keterbukaan ini bukan ancaman, melainkan fondasi bagi pasar modal yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya membuka peluang untuk kembali menampilkan kode broker, meski kebijakan tersebut belum menjadi prioritas saat ini. “Tentu kalau ditanya apakah mungkin, tentu tidak ada hal yang tidak mungkin,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

