Bank Mandiri Setor Dividen Rp 225 Triliun dalam 25 Tahun, Pajak Rp 277 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menegaskan perannya sebagai salah satu penopang utama penerimaan negara melalui konsistensi pembagian dividen dan setoran pajak. Dalam 25 tahun terakhir, bank pelat merah tersebut telah menyalurkan total dividen mencapai Rp 225 triliun kepada pemegang saham.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyebutkan, sepanjang 2025, dividen Bank Mandiri tumbuh signifikan hingga mencapai Rp 52,5 triliun. Nilai tersebut berasal dari pembagian dividen atas laba tahun buku 2024 sebesar Rp 43,5 triliun, serta dividen interim senilai Rp 9 triliun dari laba tahun buku 2025 yang telah dibayarkan pada 14 Januari 2026.
Kinerja dividen yang solid ini mencerminkan kemampuan Bank Mandiri menjaga profitabilitas dan likuiditas secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi langsung kepada negara dan masyarakat.
Selain melalui dividen, Bank Mandiri juga berperan besar dalam mendukung penerimaan fiskal melalui setoran pajak. Secara kumulatif, kontribusi pajak Bank Mandiri sejak tahun 2000 hingga 2025 telah mencapai Rp 277 triliun. Pada 2025 saja, perseroan membayarkan pajak sekitar Rp 27 triliun, dengan tren kontribusi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Besarnya dividen dan pajak yang disetorkan tersebut menegaskan posisi Bank Mandiri sebagai institusi keuangan sistemik yang tidak hanya berfokus pada kinerja bisnis, tetapi juga berkontribusi langsung dalam memperkuat fondasi fiskal nasional dan mendorong keberlanjutan pembangunan ekonomi Indonesia.
Baca Juga
Pacu Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Dorong UMKM Kreatif Naik Kelas
Kinerja Solid
Bank Mandiri telah merealisasikan pembayaran dividen interim sebesar Rp 9,3 triliun pada Januari 2026. Kebijakan tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh likuiditas terjaga serta permodalan yang berada di level memadai. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggra ini mengungkapkan, keputusan pembagian dividen interim tersebut diambil dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental perseroan secara menyeluruh.
“Tentang dividen interim, kami sudah melakukan pembayaran yaitu sebesar Rp 9,3 triliun ini telah kami bayarkan pada Januari 2026,” ujarnya.
“Kebijakan ini juga mencerminkan kekuatan kinerja, likuiditas yang baik, dan juga permodalan Bank Mandiri yang berada pada level yang memadai,” sambung Novita.
Menurutnya, realisasi dividen interim juga dipersepsikan positif oleh pasar. Hal ini tercermin dari pergerakan saham dan likuiditas perdagangan yang tetap terjaga secara wajar setelah tanggal cum dividen.
“Dividen interim ini tentunya juga dilihat oleh pasar sebagai sinyal positif atas fundamental perseroan, dengan pergerakan saham dan likuiditas pasca cum date itu dapat terjaga secara wajar,” kata Novita.
Pembayaran dividen interim ini, lanjut dia, juga akan menjadi bahan evaluasi penting bagi manajemen dalam merumuskan kebijakan dividen ke depan.
Novita mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil kepada pemegang saham dan penguatan fondasi bisnis jangka panjang. “Bank Mandiri juga optimis akan terus menciptakan nilai atau value creation dalam jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ucapnya.
Di sisi lain, penguatan likuiditas Bank Mandiri sepanjang 2025 membuka ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk menjaga konsistensi pembagian dividen kepada pemegang saham. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 2.105,8 triliun atau tumbuh 23,9% secara tahunan (year on year/yoy).
Struktur pendanaan Bank Mandiri juga semakin solid dengan dana murah atau current account saving account (CASA) yang meningkat 12,6% yoy menjadi Rp 1.431,4 triliun. Dominasi CASA tersebut memperkuat efisiensi biaya dana (cost of fund), sekaligus menopang keberlanjutan laba perseroan.
Baca Juga
Riduan menyatakan, likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang sehat menjadi fondasi utama dalam menjaga profitabilitas dan ketahanan keuangan perseroan, termasuk dalam mendukung kebijakan pemegang saham.
“Dengan struktur pendanaan yang kuat dan likuiditas yang memadai, Bank Mandiri berada pada posisi yang solid untuk menjaga kesinambungan kinerja dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujar Riduan dalam Paparan Kinerja Keuangan 2025, Kamis (5/2/2026).
Sepanjang 2025, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 56,3 triliun, naik 0,93% yoy. Kinerja tersebut ditopang pendapatan bunga bersih Rp106 triliun serta pendapatan non-bunga yang tumbuh 14,5% yoy menjadi Rp 48,5 triliun.
"Kinerja laba yang stabil, ditambah likuiditas kuat, menjadi sinyal positif bagi prospek dividen," kata Riduan.
Riduan menuturkan, sesuai pandangan analis bahwa pertumbuhan DPK yang agresif dan peningkatan CASA memberikan ruang yang lebih longgar bagi Bank Mandiri untuk mempertahankan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) tanpa mengganggu ekspansi kredit maupun kecukupan modal.
Selain itu, kualitas aset yang terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross di level 0,96% turut memperkuat keyakinan pasar bahwa laba Bank Mandiri bersifat berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi distribusi dividen di tengah dinamika ekonomi global.
Dengan posisi likuiditas yang kuat, profitabilitas terjaga, serta permodalan yang solid, Bank Mandiri dinilai memiliki ruang yang memadai untuk terus menyeimbangkan antara pertumbuhan bisnis dan imbal hasil bagi investor melalui dividen.
Pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026) saham BMRI naik 50 poin atau 1% ke posisi Rp 5.050 per lembar. BMRI betah hari ini bergerak di zona hijau namun memang dalam rentang terbatas di mana harga terendah berada di Rp 5.000 dan tertinggi di Rp 5.100 per lembar.

