Pekan Berdarah Aset Global, Bitcoin Sentuh Level Terendah Sejak November 2024
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin sempat turun ke US$ 73.000 ke level terendah sejak November 2024 karena aksi jual besar-besaran kembali berlanjut. Bitcoin anjlok di bawah angka US$ 73.073 pada Rabu (4/2/2026) pukul 02.00 WIB, mencapai harga terendahnya dalam hampir 16 bulan atau sejak 6 November 2024, ketika token tersebut diperdagangkan pada US$ 68.898.
Namun menilik data Coinmarketcap, pada pukul 07.30 WIB, kejatuhan mata uang kripto tertua di dunia ini mulai surut meski masih minus 3,61% dalam sehari ke posisi US$ 75.975. Adapun dalam sepekan BTC sudah ambles sebanyak 14,79%.
Strategi, sebuah perusahaan perbendaharaan bitcoin, mengakhiri sesi perdagangan dengan penurunan lebih dari 4%. Bitcoin telah turun 16% sejak awal tahun karena investor terus beralih dari aset berisiko di tengah meningkatnya kekhawatiran geopolitik. Kerugian tersebut meningkat minggu ini karena rilis data ekonomi AS yang penting ditunda karena penutupan sebagian pemerintah.
Yang menambah kegelisahan investor adalah ketidakpastian yang berkelanjutan seputar upaya para pembuat undang-undang untuk menciptakan pengaman legislatif bagi industri mata uang kripto, di samping ancaman likuidasi di pasar aset digital, kata Rob Hadick, mitra umum di Dragonfly Capital melansir CNBC, Rabu (4/2/2026).
“Penurunan harga BTC tampaknya tidak didorong oleh satu faktor tunggal. Harga kripto dan Bitcoin selalu berfluktuasi dan pasar ini tidak berbeda,” katanya.
Ia mencatat bahwa fundamental pasar kripto tetap kuat, terutama karena stablecoin dan aset tokenisasi terus mendapatkan daya tarik di kalangan investor ritel dan institusional. “Kami memperkirakan prospek jangka menengah dan panjang akan tetap konstruktif karena pasar terus melakukan restrukturisasi,” tambah Hadick.
Baca Juga
Harga Bitcoin 'Rebound' ke Area US$ 79.000 di Tengah Volatilitas Pasar
Pekan Berdarah
Secara terpisah, akhir pekan lalu tercatat sebagai salah satu periode paling brutal dalam sejarah pasar keuangan modern. Berbagai aset global yang selama ini dianggap tidak berkorelasi. Kripto hingga logam mulia mengalami kejatuhan serentak akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Harga Bitcoin anjlok ke kisaran US$ 74.000 pada pekan lalu setelah gagal melanjutkan reli di atas US$ 90.000 pada akhir Januari. Ethereum terkoreksi lebih dalam dengan penurunan sekitar 20% dalam sepekan ke area US$ 2.100. Di pasar komoditas, perak mencatatkan hari terburuk sejak 1980 dengan kejatuhan lebih dari 31%, sementara emas ikut terkoreksi sekitar 11%.
Di pasar kripto, total likuidasi posisi leverage menembus US$ 2,5 miliar dalam 24 jam, sementara di pasar logam mulia, lebih dari US$15 triliun nilai pasar menguap dalam hitungan jam.
Pemicu utama gejolak ini datang pada Jumat (30/1/2026), ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang. Warsh dikenal sebagai figur hawkish, dengan fokus kuat pada pengendalian inflasi, bahkan di tengah tekanan ekonomi.
Baca Juga
Michael Saylor Beri Sinyal Borong Bitcoin di Harga US$ 78.000, Akankah Pasar Bangkit?
Pengumuman ini langsung memicu repricing besar-besaran di pasar. Selama berbulan-bulan, investor membangun posisi besar di emas, perak, dan kripto berdasarkan narasi “debasement trade” atau taruhan bahwa dolar AS akan terus melemah akibat defisit fiskal, ketidakpastian The Fed, dan tren de-dolarisasi global.
“Nominasi Kevin Warsh secara efektif mematahkan narasi debasement trade yang selama ini menopang emas, perak, dan kripto. Pasar langsung menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter ke arah yang lebih ketat, mendorong penguatan dolar dan tekanan simultan pada seluruh aset lindung nilai terhadap dolar,” ujar Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku kepada Investortrust, dikutip Rabu (4/2/2026).
Keparahan kejatuhan kali ini lebih banyak dipicu oleh mekanika pasar dibandingkan perubahan fundamental. Di pasar perak, reli sekitar 250% dalam setahun terakhir mendorong posisi spekulatif ke level ekstrem, dengan indikator RSI menembus 93, tertinggi sejak 1980.
Kenaikan margin requirement oleh CME Group memaksa pelaku pasar ber-leverage tinggi melakukan likuidasi paksa. Ketika harga menembus level support, stop-loss dan margin call memicu cascade selling, menjatuhkan harga perak dari sekitar US$ 121 ke US$ 78 hanya dalam hitungan jam. Fenomena serupa terjadi di kripto, di mana likuidasi leverage mempercepat penurunan harga di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh.
Banyak investor mempertanyakan mengapa aset safe haven seperti emas ikut jatuh bersamaan dengan kripto dan saham. Jawabannya terletak pada crowding posisi. “Ketika terlalu banyak investor berada di sisi yang sama dari perdagangan sebagai lindung nilai terhadap dolar, bahkan aset yang secara fundamental kuat pun bisa ikut terkoreksi saat terjadi unwinding posisi secara serentak,” jelas Fahmi.
Kondisi ini diperparah oleh faktor tambahan seperti partial government shutdown di AS, meningkatnya ketegangan geopolitik Iran, serta ketiadaan data ekonomi penting yang biasanya menjadi panduan kebijakan The Fed.
Meski volatilitas ekstrem ini mengguncang pasar, Fahmi menilai kejadian tersebut lebih menyerupai violent reset akibat positioning yang terlalu padat, bukan perubahan siklus jangka panjang. “Secara fundamental, faktor pendukung emas seperti pembelian bank sentral dan risiko geopolitik, serta faktor pendukung kripto seperti adopsi institusional dan kejelasan regulasi, tidak mengalami perubahan signifikan. Yang terjadi lebih kepada penyesuaian posisi yang terlalu ekstrem,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut. Pasar akan mencermati tiga agenda utama sepanjang Februari, yakni laporan ketenagakerjaan AS (6 Februari), data inflasi CPI (11 Februari), dan rilis notulen FOMC (18 Februari).
"Bagi investor, ketenangan dan disiplin manajemen risiko menjadi krusial. Untuk investor jangka panjang, pendekatan seperti Dollar Cost Averaging (DCA), atau melakukan pembelian secara rutin dan bertahap dinilai tetap relevan untuk menghadapi periode volatilitas ekstrem seperti saat ini," imbuhnya.

