Michael Saylor Beri Sinyal Borong Bitcoin di Harga US$ 78.000, Akankah Pasar Bangkit?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dalam tekanan pasar kripto akhir Januari 2026, harga Bitcoin (BTC) sempat merosot ke sekitar US$ 78.000, mencerminkan pelemahan permintaan jangka pendek. Didorong oleh kondisi pasar ini, eksekutif terkenal di dunia Bitcoin memberikan sinyal bahwa ada langkah pembelian kembali yang sedang dipertimbangkan. Gerak pasar ini mendorong tanda tanya besar di kalangan investor muda dan pemula mengenai arah selanjutnya dari aset kripto terbesar dunia.
Michael Saylor, ketua eksekutif Strategy yang dikenal sebagai salah satu akumulator publik Bitcoin terbesar, memberikan isyarat lewat unggahan di media sosial bahwa perusahaan dapat melakukan pembelian Bitcoin lebih lanjut. Melansir dari Pintu, Selasa (3/2/2026), sinyal ini muncul saat harga Bitcoin turun ke sekitar US$ 78.000, menandai tekanan jual yang cukup kuat di pasar. Kebijakan pembelian ini biasanya dipublikasikan dengan format tanda visual yang diikuti pengumuman resmi pada hari berikutnya.
Respons pasar atas sinyal tersebut tidak langsung mengangkat harga Bitcoin secara signifikan, yang menandakan bahwa dukungan saat ini lebih bersifat jangka panjang, bukan dorongan harga instan. Karena peluang modal terbatas akibat kinerja saham dan instrumen preferen Strategy yang melemah, kemampuan perusahaan untuk membeli Bitcoin dalam jumlah besar kemungkinan masih terkendala oleh kondisi pasar modal.
Baca Juga
Pasar Kripto 'Rebound', Sentimen Masih di Zona Ketakutan Ekstrem
Harga Bitcoin turun hampir 10 % dalam beberapa hari terakhir, mencapai level terendah sekitar US$ 78 000, yang menandakan resistensi pasar terhadap kondisi bearish dalam jangka pendek. Penurunan ini secara signifikan melemahkan selera risiko di pasar kripto, sehingga permintaan terhadap aset berisiko seperti altcoin menurun.
Menguatnya pandangan risk off ini juga terlihat dalam perilaku trader yang mulai mempertimbangkan posisi bearish sama kuatnya dengan taruhan bullish di level tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih volatil dan dipengaruhi oleh fluktuasi besar harga Bitcoin.
Saylor dan Strategy sering menggunakan program “at the market” (ATM) yang memungkinkan perusahaan menjual sahamnya untuk mengumpulkan modal guna pembelian Bitcoin tambahan. Namun, dengan saham common dan preferen perusahaan yang melemah, kapasitas pengumpulan modal melalui metode ini terbatas. Hal ini berimplikasi bahwa pembelian BTC berikutnya kemungkinan akan lebih kecil dibandingkan akumulasi sebelumnya.
Strategi ini bukan sekadar pembelian harga rendah semata, tetapi juga bagian dari komitmen jangka panjang terhadap Bitcoin. Meski biaya modal dan tekanan pasar membuat strategi ini kurang fleksibel dalam jangka pendek, komitmen jangka panjang masih menjadi fokus utama.
Baca Juga
OJK Siapkan Sederet Inovasi Baru di IAKD, Ada Stablecoin, REPO Kripto hingga Manajer Dana Kripto
Munculnya sinyal pembelian Bitcoin oleh Saylor dapat menyiratkan bahwa ada kesempatan membentuk dasar harga jika pasar terus melemah. Namun, sinyal ini lebih mencerminkan keyakinan atas nilai jangka panjang Bitcoin ketimbang momentum harga jangka pendek. Bagi investor muda dan pemula, memahami perbedaan antara sinyal jangka panjang dan reaksi pasar jangka pendek adalah kunci untuk mengelola harapan.
Selain itu, karena kondisi likuiditas dari saham Strategy terbatas, dampak pembelian terhadap harga Bitcoin di pasar spot kemungkinan tidak sebesar di masa sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa strategi pembelian institusional tidak selalu menggerakkan harga secara langsung, terutama ketika sentimen pasar masih rapuh.

