Harga Bitcoin 'Rebound' ke Area US$ 79.000 di Tengah Volatilitas Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pasar aset kripto menguat (rebound) pada awal pekan seiring membaiknya sentimen global setelah rilis data manufaktur Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi. Bitcoin (BTC) tercatat naik 1,65% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$ 79.000 atau setara Rp 1,32 miliar pada Selasa (3/2/2026) pagi ini.
Data pasar menunjukkan dominasi Bitcoin berada di level 60%, sementara total kapitalisasi pasar kripto global meningkat 1,63% menjadi US$ 2,63 triliun. Penguatan tersebut menandai pemulihan harga dari level terendah harian US$ 74.604 ke puncak intraday di sekitar US$ 79.333.
Kenaikan harga Bitcoin dipicu oleh laporan ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat Januari yang melonjak ke 52,6%, menandakan ekspansi sektor manufaktur yang berlanjut selama 15 bulan berturut-turut. Data tersebut mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Namun, volatilitas pasar masih tinggi. Data CoinGlass mencatat total likuidasi posisi leverage di pasar kripto mencapai US$ 729,3 juta dalam 24 jam terakhir. Likuidasi didominasi posisi long senilai US$ 453 juta, sementara posisi short mencapai US$ 276 juta.
Baca Juga
Michael Saylor Beri Sinyal Borong Bitcoin di Harga US$ 78.000, Akankah Pasar Bangkit?
Melansir riset Ajaib Kripto, Selasa (3/2/2026) tekanan pasar tercermin dari Fear & Greed Index yang jatuh ke level 14 atau kategori extreme fear. Kondisi ini terjadi di tengah gejolak pasar global, di mana aset safe haven tradisional juga mengalami tekanan. Harga emas dilaporkan turun sekitar 12%, sementara perak mencatat penurunan terdalam sejak 1980 akibat penguatan dolar AS.
Dari sisi makroekonomi, ketidakpastian masih membayangi pasar menyusul penundaan rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengumumkan laporan pekerjaan Januari tidak dirilis sesuai jadwal akibat partial government shutdown, dengan jadwal rilis ulang menunggu kepastian pendanaan pemerintah.
Baca Juga
Bukan Emas dan Bitcoin, Survei JPMorgan Sebut Keluarga Kaya Justru Lirik Investasi Ini
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan kebijakan fiskal AS serta rilis data ekonomi lanjutan sebagai penentu arah pergerakan aset kripto. Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan bergerak di rentang US$ 78.000–US$ 81.000.
Menilik data Coinmarketcap, Selasa (3/2/2026) pukul 14.45 WIB, BTC di kisaran US$ 78.766 atau naik sekitar 3,07% secara harian, mencerminkan pemulihan terbatas di tengah volatilitas pasar kripto global.
Berdasarkan data pasar, kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat mencapai US$ 1,57 triliun, tumbuh 2,94% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, volume transaksi 24 jam berada di level US$ 57,7 miliar, meski mengalami penurunan 19,95%, mengindikasikan kehati-hatian investor meskipun harga bergerak naik.
Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar (volume/market cap) tercatat 3,66%, menunjukkan aktivitas perdagangan masih relatif moderat. Dari sisi fundamental suplai, total dan circulating supply Bitcoin masing-masing berada di level 19,98 juta BTC, mendekati batas maksimum pasokan 21 juta BTC. Adapun nilai fully diluted valuation (FDV) tercatat setara dengan kapitalisasi pasar di kisaran US$ 1,65 triliun.
Pergerakan harga dalam 24 jam terakhir menunjukkan Bitcoin sempat bergerak di rentang US$ 76.000–US$ 79.000, sebelum kembali menguat mendekati area psikologis US$ 79.000. Secara teknikal, pola pergerakan ini mencerminkan fase konsolidasi dengan kecenderungan rebound, seiring pelaku pasar menunggu katalis makroekonomi dan kebijakan global berikutnya.
Dengan dominasi pasar yang tetap kuat dan suplai yang semakin mendekati batas maksimum, pergerakan Bitcoin ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, arus likuiditas, serta sikap investor terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

