IHSG Berbalik ke Atas 8.000, Pasar Merespons Positif Skema Pembenahan Pasar Saham Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Pelaku pasar pada dasarnya menyambut positif kejelasan dan detail awal skema pelaksanaan tiga langkah utama pembenahan pasar modal Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kesepakatan tersebut direspons positif pasar yang ditunjukkan lompatan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI kembali ke atas level 8.000, tepatnya di posisi 8.062,85 atau menguat 140,12 poin setara 1,77% hingga pukul 15.00 WIB. Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan terbaru kebijakan pembenahan pasar modal.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyampaikan, prinsip pertama yang dinilai krusial untuk kembali menarik aliran dana asing adalah transparansi.
Baca Juga
Seskab Teddy Ungkap Rencana Pertemuan Prabowo dan Trump Sedang Dibahas
“Bagi investor global, transparansi kepemilikan dan data pasar merupakan prasyarat utama. Pada akhirnya, esensi menjadi perusahaan terbuka adalah kesiapan untuk memberikan keterbukaan informasi yang memadai dan kredibel,” kata Liza kepada investortrust.id, Selasa (3/2/2026).
Selain transparansi, prinsip kedua yang tidak kalah penting adalah likuiditas. Menurut Liza, dana pasif membutuhkan kedalaman dan kelancaran likuiditas agar dapat masuk secara berkelanjutan ke pasar Indonesia. “Mengingat porsi investor asing masih memegang peran signifikan di bursa domestik, terutama karena ukuran pasar Indonesia relatif kecil dibandingkan pasar global,” jelasnya.
Sebagai ilustrasi, kapitalisasi pasar NVIDIA disebut setara sekitar enam hingga tujuh kali total kapitalisasi pasar IHSG. Kondisi tersebut membuat penurunan persepsi investor asing, seperti downgrade dari Nomura setelah sebelumnya dilakukan oleh Goldman Sachs dan UBS, berisiko semakin mempersempit investment pool Indonesia.
Baca Juga
Finalisasi Perjanjian Dagang dengan AS, RI Perkuat Stabilisasi Global dan ASEAN
Ke depan, pelaku pasar akan memantau secara ketat detail implementasi teknis kebijakan, khususnya terkait pembukaan informasi ultimate beneficial owner (UBO) serta penerapan kenaikan minimum free float menjadi 15%.
“Implementasi kebijakan ini diharapkan dilakukan dengan skema yang terukur dan tidak menimbulkan guncangan lanjutan terhadap IHSG, terlebih dengan tenggat waktu yang relatif ketat menuju sekitar Maret,” ujar Liza.
Fokus perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada sejauh mana regulator mampu untuk menyampaikan dan mengeksekusi kebijakan yang memenuhi standar dan ekspektasi MSCI.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Percepat Pengembangan Proyek Emas Pani, Tingkatkan Kapasitas Heap Leach
“Apa pun hasil akhirnya, proses ini akan menjadi ujian bagi pasar Indonesia di mata investor asing, apakah pasar domestik benar-benar transparan dan sehat, atau justru mengonfirmasi kekhawatiran lama terkait potensi distorsi dan manipulasi pasar. Inilah fase aftermath yang secara realistis harus dihadapi pasar ke depan,” jelasnya.
Untuk jangka sangat pendek, Liza masih melihat adanya peluang technical rebound IHSG, meskipun cenderung terbatas pada kisaran 8.115–8.185, dengan catatan IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 8.000. Hal ini sembari menunggu aksi konkret Danantara yang dikabarkan siap turun langsung berinvestasi di pasar saham Indonesia.
Strategi investasi diarahkan pada saham-saham berfundamental baik, seiring memasuki musim laporan kinerja (earnings season), berkapitalisasi besar, serta tidak memiliki isu free float. Liza juga menyoroti sektor komoditas yang tengah bergejolak seiring penurunan harga precious dan industrial metals, dengan peluang short-term trading secara musiman ketika harga komoditas mulai pulih.

