Penguatan Jenama Internal AZKO Jadi Kunci Transformasi PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) sedang berada pada fase krusial transformasi bisnis pasca berakhirnya lisensi ACE Hardware International pada akhir 2024. Perseroan kini memusatkan strategi pada penguatan merek atau jenama internal sebagai fondasi pertumbuhan jangka menengah.
Diketahui ACES kini hadir dalam indentitas merek baru AZKO untuk menggantikan Ace Hardware di Indonesia. Seperti diberitakan Investortrust.id beberapa waktu lalu, langkah ini sebagai upaya membangun kemandirian merek dan membuka ruang inovasi yang lebih luas sesuai kebutuhan pasar domestik.
Transformasi tersebut diperkuat dengan peresmian experience store pertama AZKO berkonsep next-generation retail. Gerai ini pun mengusung pengalaman belanja yang lebih seamless dengan investasi hampir Rp 14 miliar.
"Gerai ini ditujukan untuk mendukung kemudahan dan kenyamanan berbelanja, Azko juga hadir melalui layanan omnichannel dengan aplikasi ruparupa. Salah satu fitur unggulannya adalah Scan & Shop, yang memungkinkan pelanggan dan para members menikmati proses berbelanja yang lebih praktis dan efisien," kata Direktur PT Aspirasi Hidup Indonesia tbk Teresa Lucia Wibowo awal Januari lalu.
Manajemen menilai konsep AZKO dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan dan produktivitas toko. Pendekatan berbasis pengalaman diharapkan mampu menjaga relevansi ritel fisik di tengah tekanan e-commerce.
Dari sisi kinerja, pendapatan ACES pada Q3-2025 memang tercatat melemah secara kuartalan. Namun laba kotor, EBITDA, dan laba bersih justru tumbuh, menandakan perbaikan kualitas pendapatan dan efisiensi operasional.
Baca Juga
Lisensi Berakhir, Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) Luncurkan Identitas Baru Menjadi AZKO
Dikutip dari InvestingPro, Selasa (27/1/2026), perbaikan margin di tengah penurunan penjualan mencerminkan disiplin biaya yang semakin baik. Fokus pada promosi yang lebih terarah mulai membantu menjaga profitabilitas di masa transisi.
Di sisi pasar modal, saham ACES masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah dibandingkan sejarahnya. InvestingPro mencatat “rasio P/E dua belas bulan terakhir ACES berada di sekitar 9,0 kali, dibandingkan rata-rata historis sekitar 24,0 kali.”
Valuasi yang terdiskon ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko eksekusi transformasi merek. Namun kondisi tersebut juga membuka ruang re-rating jika strategi baru mampu dijalankan secara konsisten.
Dari sisi pandangan analis, target harga rata-rata 12 bulan saham ACES berada di level Rp 555 per saham. “Estimasi tertinggi mencapai Rp860 dan terendah Rp450, dengan 11 analis memberikan rekomendasi untuk saham ini,” tulis laporan InvestingPro.
Selain transformasi merek, ACES tetap menjaga daya tarik melalui kebijakan dividen. Sebagaimana diberitakan investortrust.id, perseroan menetapkan dividen sebesar Rp 579,87 miliar sebagai bentuk komitmen membagikan laba kepada pemegang saham.
Ke depan, ekspansi gerai AZKO ke luar Jawa dan kota tier tiga menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah. Strategi ini diharapkan memperluas basis pelanggan sekaligus memperkuat posisi merek baru.

