Dibayangi Lemahnya Daya Beli, MAPA Masih Punya Fundamental Kokoh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tak ada yang membantah bahwa pelemahan daya beli, hingga fenomena rojali alias rombongan jarang beli telah ikut menekan kinerja emiten-emiten sektor ritel domestik, termasuk anak usaha PT Mitra Adi Perkasa yang bergerak didistribusi barang dan produk olahraga, PT Mitra Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Sekadar informasi MAPA adalah distributor untuk 54 merek sepatu olahraga ternama, di antaranya Adidas, New Balance, dan Converse. MAPA juga mengelola jaringan toko olahraga, toko mainan, dan toko sepatu. Gerai di bawah naungan MAPA adalah Sport Station, Planet Sport, Kidz Station, dan Payless.
Namun demikian di tengah tekanan pelemahan tadi, MAPA masih mampu menunjukkan kinerja apik, setidaknya jika mengacu pada laporan kinerja perseroan pada kuartal III-2025 lalu. Pada periode tersebut, perseroan masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 13,6% menjadi Rp 5,2 triliun. Sementara Laba kotor meningkat 12,8% menjadi Rp 6,5 triliun.
Dengan EBITDA sebesar Rp 2,1 triliun, MAPA pada periode yang sama berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun atau meningkat 5,5% secara tahunan.
VP Investor Relations Corporate Communication Sustainability MAP Group, Ratih D Gianda mengatakan, apiknya kinerja perseroan menggambarkan relevansi brand MAP yang terus berlanjut. “Serta didukung oleh meningkatnya traffic pelanggan selama periode Back-to-School dan Hari Kemerdekaan,” kata Ratih dalam pernyataan tertulisnya beberapa waktu lalu.
Optimisme MAP Aktif setidaknya sejalan dengan laporan aplikasi olahraga Strava yang menyebut sektor retail olahraga masih punya peluang untuk bertumbuh. Berdasarkan laporan Year In Sport The Trend Report, kini banyak generasi Z yang mulai berinvestasi di sektor kebugaran.
Meskipun 65% Gen Z mengaku terdampak langsung oleh inflasi, mereka tetap menggandakan belanja untuk kebugaran, sekaligus menemukan komunitas, koneksi, bahkan romansa melalui aktivitas tersebut. Sebanyak 30% Gen Z berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebugaran pada 2026, dengan 63% lebih banyak Gen Z dibanding Gen X yang menyebut perangkat wearable sebagai investasi kebugaran terbesar mereka pada 2025.
Baca Juga
Target Kinerja Keuangan dan Saham MAP Aktif (MAPA) Dipangkas, Ini Pemicunya
Prioritas kencan dan pengeluaran Gen Z pun terlihat jelas. Sebanyak 64% menyatakan lebih memilih menghabiskan uang untuk perlengkapan olahraga ketimbang kencan, dan 39% lebih banyak Gen Z dibanding Gen X menggunakan aktivitas kebugaran untuk bertemu orang-orang dengan minat yang sama.
Mendominasi pasar
Mengacu pada laporan investing.com, jika dibandingkan dengan peers dan rerata industri, PT Mitra Adiperkasa Aktif merupakan salah satu pemain utama di sektor ritel gaya hidup dan olahraga yang memiliki profil pasar cukup menarik dan relatif dominan di industri. Tengok saja tingkat kapitalisasi pasarnya yang mencapai Rp 19,525 triliun, yang jauh melampaui rerata peers yang kapiptalisasi pasarnya berada di kisaran Rp 4,573 triliun. Atau bahkan rerata industri yang ‘hanya’ sebesar Rp 1,131 triliun. Dari kapitalisasi pasarnya, jelas menegaskan posisi MAPA sebagai raksasa ritel yang berpengaruh besar di pasar domestik.
Meskipun memiliki skala bisnis yang masif, pergerakan harga saham MAPA dalam satu tahun terakhir menunjukkan tekanan yang cukup dalam dibandingkan kompetitornya. Perusahaan mencatatkan total pengembalian harga satu tahun sebesar minus 30,1 persen, berbanding terbalik dengan rata-rata koleganya yang bertumbuh positif kendati tipis.
Dari sisi pembagian keuntungan kepada pemegang saham, MAPA menawarkan imbal hasil dividen sebesar 0,6%, dan tergolong konservatif jika melihat para koleganya yang mampu memberikan dividen rerata 2,7% dari keuntungan. Namun, apabila menilik indikator imbal hasil pemegang saham secara keseluruhan yang mencakup kebijakan buyback saham atau aspek lainnya, MAPA lebih unggul dengan menunjukkan angka 4,9%. Hal ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi investor meski tidak seluruhnya disalurkan melalui mekanisme dividen tunai.
Investing.com juga mengganjar tingkat risiko atau volatilitas saham MAPA yang diukur melalui koefisien Beta lima tahun pada angka 0,46. Nilai ini menunjukkan bahwa saham MAPA cenderung bergerak lebih stabil dibandingkan fluktuasi pasar secara keseluruhan, karena berada di bawah angka satu.
Walaupun tingkat volatilitas ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata rekan sejawatnya yang sangat rendah di angka 0,17, angka tersebut masih tetap lebih rendah dibandingkan rata-rata sektor sebesar 0,55. Investing.com menyebut bahwa secara keseluruhan, profil MAPA menggambarkan sebuah perusahaan ritel besar dengan fundamental yang kokoh dan risiko pergerakan harga yang relatif terukur, kendati tengah menghadapi tantangan dalam performa harga saham di pasar sekunder.
Sementara itu terkait harga saham, analisis yang dibuat mesin Stockbit menyebut, harga saham MAPA masih dapat melaju dari Rp 665 per lembar ke rentang Rp 800 hingga Rp 951 per lembar. Sedangkan analis yang dirangkum Investing.com menyebut harga saham MAPA masih akan mampu bergerak di rentang Rp 800 hingga Rp 1.110, dan harga median di angka Rp 965.
Dalam 12 bulan terakhir, MAPA tercatat memiliki PE Ratio 13.4 x, dan bukanlah tergolong emiten dengan nilai saham yang terlalu mahal, kendati tak bisa juga dikatakan murah ekstrem.

