Top! IHSG Intraday Sentuh 9.100, Giliran Saham Bank Jadi Pengungkit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.12 WIB, Kamis (15/1/2026), sentuh level intraday tertinggi sepanjang masa 9.100,83 setelah naik 68 poin (0,75%). Penguatan tersebut berlanjut sejak awal pembukaan perdagangan hari ini.
Penopang utama kenaikan indeks kali ini datang dari penguatan sejumlah saham big cap, seperti DCII, DSSA, PTRO, BUCA, hingga DAAZ. Kenaikan juga ditopang penguatan harga saham big bank, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Begitu juga dengan saham BRIS dan BBTN ikut naik.
Baca Juga
Saham Timah (TINS) Melambung ke Level Tertinggi Baru di Atas Rp 4.000, Penguatan masih Berlanjut?
Adapun saham dengan kenaikan harga paling pesat, yaitu BELL naik 29,27% menjadi Rp 106, ESTI naik 28,37% menjadi Rp 181. ARA melanda saham SSTM naik 25% menjadi Rp 3.700, IRSX menguat 25% menjadi Rp 725, VISI naik 24,81% menjadi Rp 322, INTD naik 24,62% menjadi Rp 324.
Kemarin, IHSG ditutup torehkan level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) setelah menguat 84,28 poin (0,94%) menjadi 9.032. Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 1,16 triliun, terbanyak ARCI senilai Rp 376,40 miliar, INCO senilai Rp 230,11 miliar, dan ANTM mencapai Rp 187,99 miliar.
Sebelumnya, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai keberhasilan IHSG menembus level psikologis 9.000 dan mencetak ATH kemarin mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang kondusif. “Rebound indeks hari ini terutama ditopang ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed yang semakin akomodatif setelah data inflasi AS menunjukkan pelonggaran,” ujar Hendra.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat 39 Poin, Tiga Saham Dipimpin IRSX Dibuka ARA
Ekspektasi siklus penurunan suku bunga global memperkuat minat investor terhadap aset berisiko di emerging markets. Dari dalam negeri, stabilnya nilai tukar rupiah serta sinyal kemampuan Bank Indonesia menjaga keseimbangan stabilitas–pertumbuhan meningkatkan kepercayaan pasar di tengah likuiditas sistem keuangan yang longgar.
Secara komposisi, reli IHSG tidak hanya ditopang saham perbankan dan big caps, tetapi juga sektor energi, infrastruktur, dan komoditas. Sektor energi menguat sejalan dengan kenaikan emas dan perak serta sentimen transisi energi dan proyek berkelanjutan seperti yang dijalankan PGEO. Saham konstruksi, infrastruktur, dan second liners turut mendapat rotasi sektor pasca penembusan ATH.
Baca Juga
Berharap dari Musim Hujan, Intip Target Kinerja dan Saham Sido Muncul (SIDO) Ini
“Ke depan, setelah level 9.000 berhasil ditembus, IHSG secara teknikal memiliki ruang menuju area 9.100–9.200 dalam jangka pendek, dengan catatan sentimen global tetap kondusif,” terang Hendra.
Namun, risiko perlu dicermati seperti potensi koreksi teknikal jangka pendek, pelemahan harga minyak, ketidakpastian geopolitik, dan rilis kinerja keuangan perbankan AS yang berpotensi memicu volatilitas. Kondisi tersebut dapat menahan reli dan mendorong IHSG bergerak konsolidatif di kisaran atas.

