Saham Perbankan 'Nyungsep' Ketika Indeks Ukir ATH
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham perbankan justru ‘nyungsep’ saat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pesat pora hingga cetak level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu (14/1/2025).
Berdasarkan data perdagangan saham BEI, empat saham KBMI IV menunjukkan pelemahan dipimpin saham BBCA dengan pelemahan sebanyak 0,93% menjadi Rp 8.000. Saham BBRI ditutup stagnan level Rp 3.720.
Baca Juga
DBS Bank: IHSG Menuju 9.800, Komoditas dan Sektor Konsumen Jadi Pendorong
Adapun saham BMRI hanya naik tipis 0,41% menjadi Rp 4.840 dan saham BBNI naik tipis 0,46% menjadi Rp 4.360. Selanjutnya saham bank KBMI III justru menunjukkan kinerja lebih kuat, seperti BRIS naik 7,11% menjadi Rp 2.260 dan BBTN naik 3% menjadi Rp 1.200.
Terkait pergerakan IHSG hari ini ditutup melesat ke level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) setelah menguat 84,28 poin (0,94%) menjadi 9.032. Bahkan, indeks sempat sentuh 9.049 dengan nilai transaksi Rp 227,40 triliun.
Lompatan tersebut didukung penguatan sejumlah saham big cap, seperti BREN naik 4,89% menjadi Rp 9.650, MORA naik 6,36% menjadi Rp 13.800, DSSA menguat 2,83% menjadi Rp 107.975, PTRO naik 7,59% menjadi Rp 12.400, CBDK naik 9,66% menjadi Rp 7.950, TINS naik 7,65% menjadi Rp 3.940, ANTM naik 5,41% menjadi Rp 4.090, BUMI menguat 3,94% menjadi Rp 422, dan EMAS naik 3,11% menjadi Rp 5.800.
Penguatan tersebut juga didukung penguatan seluruh sektor saham, seperti konsumer primer 3,21%, infrastruktur naik 2,21%, industry 1,97%, energi 1,75%, sektor material dasar 1,26%, sektor property 1,58%, dan sektor keuangan 0,63%.
Prospek Saham Bank
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (13/1/2025) menyebutkan bahwa emiten sektor bank diperkirakan catatkan kinerja positif pada 2026, meski masih dibayangi tekanan margin, risiko kualitas aset, dan ketidakpastian makro. Laba bersih emiten sektor ini bisa mencapai Rp 205,5 triliun atau tumbuh 5,1% dari tahun lalu.
Adapun consensus analis menyebutkan bahwa laba bersih sektor perbankan di BEI bisa mencapai Rp 215,9 triliun atau bertumbuh 9,2% dari target laba tahun 2025. Target optimistis konsensus ini mengasumsikan pemulihan yang lebih cepat serta ekspansi margin yang lebih kuat.
Baca Juga
Terkait kredit, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, pertumbuhan diproyeksikan lebih tinggi berkisar 11% sepanjang 2026, dibandingkan proyeksi tahun 2025 sebanyak 9,1%. Segemen wholesale menjadi pendorong utama dengan tenor investasi jangka panjang yang lebih stabil.
“Meski demikian, kompetisi yang semakin ketat di segmen korporasi blue-chip berpotensi menekan yield kredit. Kondisi ini diperkuat pemulihan berbentuk K-shape, yang memusatkan likuiditas dan daya tawar pada segmen korporasi dan rumah tangga menengah-atas. Yield kredit yang lebih lemah diperkirakan akan mengimbangi perbaikan cost of fund (CoF), sehingga menekan NIM tahun ini,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Optimis Ekonomi RI Tumbuh 6% di Awal 2026, Purbaya Awasi Ketat Belanja Kementerian
Sementara itu, risiko kredit konsumer masih menjadi sorotan dengan rasio NPL menembus level tertinggi historis di 2,4%. Sementara pinjaman investasi yang didominasi korporasi besar justru mencatat NPL historis terendah 1,4% per September 2025.
Sejumlah faktor tersebut mendorong BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi neutral untuk sektor perbankan dengan saham pilihan teratas BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 10.800 dan BTPS dengan target harga Rp 1.600. Kedua emiten ini memiliki profil laba yang lebih aman dan kualitas aset yang relatif kuat.

