DBS Bank: IHSG Menuju 9.800, Komoditas dan Sektor Konsumen Jadi Pendorong
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – DBS Bank memperkirakan kinerja solid pasar ekuitas Asia pada 2026. Begitu juga dengan pasar saham Indonesia diprediksi lanjutkan penguatan dengan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menuju level 9.800.
Senior Investment Strategist DBS Bank Joanne Goh menilai kekuatan utama penopang IHSG tahun ini berasal dari siklus komoditas yang masih kuat. Kelangkaan (scarcity), ketegangan geopolitik, serta faktor keamanan strategis memicu harga komoditas tetap tinggi yang tentu menguntungkan Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya abundan
.
Baca Juga
“Kami mematok target kenaikan IHSG menuju level 9.800 tahun ini,” ujar Joanne dalam acara DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights bertajuk The Long Game, Senin (12/1/2026).
Kenaikan indeks, terang Joanne, juga didukung faktor makroekonomi Indonesia semakin stabil. Meski Rupiah sempat menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS, tekanan mulai mereda yang membuat kondisi makro lebih kondusif.
Adapun sektor saham pilihan dari DBS sejalan dengan pertumbuhan yang kuat pada sektor konsumsi domestic, yaitu sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer diperkirakan menjadi pendorong utama IHSG dalam menembus target indeks sepanjang 2026.
Baca Juga
Pada penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/1/2025), IHSG ditutup anjlok sebanyak 52,03 poin (0,58%) menjadi 8.884 dengan investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 101,96 miliar. Net buy terbanyak melanda saham BBRI senilai Rp 234,56 miliar.
Penurunan indeks hari ini dipicu atas kejatuhan sejumlah saham big cap, khususnya saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu. Di antaranya saham BREN melemah 5,01%, PTRO turun 6,43%, BRPT turun 7,10%, TPIA melemah 3,35%, dan AMMN melemah 2,76%.
Sedangkan sektor utama penekan indeks datang dari kejatuhan sektor infrastruktur melemah 2,37%, sektor teknologi turun 1,68%, sektor energi turun 1,39%, sektor konsumer non primer 0,57%. Sebaliknya kenaikan lebih dari 2% melanda saham sektor industry dan konsumer primer.

