Raup Pendanaan US$ 500 Juta, Ripple Batalkan Rencana IPO
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan teknologi blockchain Ripple menegaskan tidak akan melanjutkan rencana penawaran umum perdana saham (IPO), pasca berhasil merampungkan pendanaan senilai US$ 500 juta pada November 2025 dengan valuasi mencapai US$ 40 miliar. Ripple memilih tetap berstatus perusahaan swasta untuk menjaga fleksibilitas ekspansi dan fokus pada pengembangan bisnis jangka panjang.
Presiden Ripple Monica Long mengatakan keputusan tersebut diambil karena perusahaan tidak membutuhkan tambahan akses likuiditas maupun modal dari pasar publik. Menurutnya, kondisi keuangan Ripple saat ini sangat solid, didukung neraca yang kuat serta minat besar dari investor strategis global.
“Sering kali IPO dilakukan untuk mendapatkan akses ke investor dan likuiditas pasar publik. Namun, kami berada dalam posisi yang sangat sehat untuk terus mendanai dan berinvestasi dalam pertumbuhan tanpa harus go public,” ujar Long kepada Bloomberg, dikutip Kamis (8/1/2026).
Putaran pendanaan tersebut diikuti sejumlah investor besar, antara lain Fortress Investment Group, Citadel Securities, serta investor kripto institusional seperti Pantera Capital, Galaxy Digital, Brevan Howard, dan Marshall Wace. Selain itu, pada awal 2025 Ripple juga menyelesaikan tender offer senilai US$ 1 miliar dengan valuasi yang sama, mencerminkan tingginya permintaan institusional terhadap ekuitas Ripple.
Baca Juga
Teka-teki Ripple IPO di Tahun Ini hingga ETF XRP Bakal Sah di Oktober?
Sepanjang 2025, Ripple mencatat ekspansi agresif melalui empat akuisisi strategis, yakni Hidden Road, Rail, GTreasury, dan Palisade, dengan total nilai transaksi mendekati US$4 miliar. Langkah tersebut memperluas layanan Ripple dari fokus awal pembayaran menjadi penyedia infrastruktur aset digital terintegrasi, termasuk kustodian kripto, prime brokerage, manajemen perbendaharaan, dan pembayaran berbasis stablecoin.
Ripple Payments tercatat telah memproses volume transaksi lebih dari US$95 miliar, sementara Ripple Prime yang dikembangkan dari akuisisi Hidden Road meluncurkan layanan pinjaman beragunan serta produk XRP untuk investor institusional. Di sisi lain, stablecoin RLUSD milik Ripple berhasil menembus kapitalisasi pasar US$ 1 miliar hanya dalam tujuh bulan sejak peluncuran.
CEO Ripple Brad Garlinghouse menyebut ekspansi ke sektor kustodian, stablecoin, dan prime brokerage menunjukkan ambisi perusahaan untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem aset digital global. Dengan tetap menjadi perusahaan tertutup, Ripple menilai dapat lebih leluasa mengeksekusi strategi bisnis tanpa tekanan jangka pendek dari pasar saham.
Baca Juga
Ripple Uji RLUSD di Empat L2 Ethereum, Harga ETH Ambles 11% Sepekan
XRP Anjlok
Sementara itu, XRP token kripto yang dikembangkan oleh Ripple turun pada perdagangan Kamis pagi waktu Asia, mengembalikan sebagian dari kenaikannya di awal tahun 2026 karena penurunan yang lebih luas melanda mata uang kripto utama. Token tersebut dalam sehari turun 7% menjadi US$ 2,15.
Penurunan ini terjadi ketika dana baru yang masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang terkait dengan XRP ETF yang memegang token yang mendasarinya menjadi ujian utama bagi pasar. ETF XRP spot Canary Capital, XRPC, mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 13 November, lapor ETFdb. Data yang dikumpulkan oleh SoSoValue menunjukkan ETF XRP spot telah menarik sekitar US$ 1,3 miliar sejak diluncurkan pada bulan November, lapor DL News.
Di mana berita utama makro tidak membantu. ADP mengatakan penggajian swasta naik 41.000 pada bulan Desember, dan Carl Weinberg, kepala ekonom di High Frequency Economics, menyebutnya sebagai "laju perekrutan yang relatif lambat". Perkiraan ADP seringkali berbeda dari penghitungan pemerintah, jajak pendapat Reuters menunjukkan para ekonom memperkirakan laporan hari Jumat akan menunjukkan peningkatan jumlah pekerjaan sebesar 60.000, dengan tingkat pengangguran 4,5%.
Bitcoin merosot sekitar 2,5% menjadi US$ 91.045 dan Ethereum turun 3,8% menjadi US$ 3.154, menggarisbawahi penurunan di seluruh kripto. Saham AS berakhir beragam setelah menyentuh rekor intraday, dengan S&P 500 ditutup lebih rendah, sementara Nasdaq sedikit naik karena kekuatan beberapa saham AI.

