Garap Tambang KPC mulai Tahun 2026, Saham Darma Henwa (DEWA) Direvisi Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bersiap memasuki fase ekspansi baru, seiring terbentuknya new contract pipeline yang lebih jelas. Perseroan juga mulai mengambilalih penuh operasi tambang site Bengalon milik KPC setelah kontrak subkontraktor berakhir pada akhir tahun fiskal 2025, dengan jadwal pengosongan lokasi pada kuartal I-2026.
Sejumlah langkah tersebut mendorong Henan Putihrai Sekuritas merevisi naik target harga saham DEWA dari Rp 500 menjadi Rp 750 dengan rekomendasi saham beli. Dengan target harga baru ini, terbuka peluang kenaikan harga saham DEWA lebih dari 28%.
Analis Henan Putihrai Sekuritas Irsyady Hanief mengatakan, manajemen DEWA memproyeksikan belanja modal (capex) sekitar Rp 1 triliun pada 2026 untuk pengadaan 30–35 unit truk baru serta penataan ulang site Bengalon guna mendukung armada tambang berbasis kendaraan listrik (EV). Proses transisi diperkirakan memakan waktu sekitar enam bulan untuk pembersihan dan pembangunan ulang sebelum mencapai operasi penuh dengan dukungan sekitar 790 tenaga kerja baru.
Baca Juga
Darma Henwa (DEWA) Dinilai Prospektif, Target Harga Saham Direvisi Naik Jadi Rp 700
Selain Bengalon, DEWA mengincar peluang kontrak tambahan, termasuk satu kontrak dari Arutmin serta dua peluang lain di luar ekosistem KPC–Arutmin. “Manajemen memperkirakan setiap tambahan kapasitas overburden removal sebesar 50 juta bcm akan membutuhkan capex peralatan sekitar Rp 3,4–4,0 triliun,” tulis riset Henan di Jakarta pekan lalu.
Guna mendukung ekspansi tersebut, DEWA tengah mengevaluasi penggunaan instrumen utang jangka pendek serta menjajaki pembentukan sindikasi pinjaman guna memperkuat likuiditas, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun belanja modal. “Langkah ini didukung oleh perbaikan fleksibilitas neraca keuangan, seiring proses reklasifikasi ekuitas yang sedang berjalan,” tulisnya.
Dari sisi kinerja, DEWA mencatat visibilitas laba yang semakin jelas seiring potensi tambahan kontrak. Hal ini mendoron Henan Putihray menaikkan target overburden removal perseroan menjadi sekitar 158–164 juta bcm pada periode 2026-2027, sehingga berdampak terhadap kenaikan proyeksi pendapatan sebesar 10,9% pada tahun 2026 dan 16,5% pada 2027.
Meski demikian, kebutuhan capex peralatan yang besar diperkirakan menahan peningkatan margin, sehingga pertumbuhan profitabilitas tetap lebih moderat. Henan Putihray mengestimasi EBITDA DEWA untuk tahun 2026 tercatat 31,7% atau lebih rendah dari konsensus, sementara laba bersih 18,4% di bawah konsensus, meskipun estimasi pendapatan relatif sejalan.
Baca Juga
Siapkan Dana Rp 1,66 Triliun, Darma Henwa (DEWA) Buyback Saham
Sementara itu, proses reklasifikasi ekuitas DEWA terkait penyesuaian saldo rugi ditahan telah memperoleh persetujuan prinsip dan kini tengah ditelaah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan auditor eksternal. Penyesuaian ini berkaitan dengan reklasifikasi selisih kurs yang sebelumnya diakui sebagai keuntungan valuta asing, meski operasional DEWA bersifat domestik.
“OJK mencatat nilai penyesuaian terbaru sebesar Rp 2,2 triliun dan manajemen optimistis proses ini akan memperoleh persetujuan final. Bersamaan dengan itu, proses penurunan nilai aset tidak produktif ditargetkan rampung pada kuartal IV-2025,” tulisnya.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Rebound, Tiga Saham Dipimpin AMMN Layak Dilirik
Sebelumnya, Mandiri Sekuritas mamatok peningkatan estimasi laba DEWA untuk tahun 2026–2027 sebesar 10,1% hingga 11,7%. Sejalan dengan itu, target harga saham DEWA direvisi naik menjadi Rp 700 per saham dengan rekomendasi tetap dipertahankan beli. Kemarin, saham DEWA ditutup di level Rp 560.
Mandiri Sekuritas menilai bahwa prospek kinerja Darma Henwa (DEWA) semakin solid, seiring outlook produksi yang lebih kuat dan pertumbuhan kontrak mulai 2026 ke depan. Kontrak-kontrak baru tersebut diperkirakan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja operasional dan keuangan perseroan dalam jangka menengah.

