IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Pencapaian Target 9.000 Akhir 2025 Terbuka Lebar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah ditutup pada level 8.710,69.
Kinerja ini menegaskan tren bullish pasar saham domestik masih berlangsung kuat, ditopang likuiditas tinggi dan nilai transaksi yang menembus Rp 27 triliun. Sebanyak 402 saham tercatat menguat berkat minat beli yang merata di berbagai sektor.
Baca Juga
Bursa Asia-Pasifik ‘Mixed’, Investor Cerna Data Dagang China
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai bahwa sentimen positif berasal dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat serta penguatan data perdagangan China, terutama ekspor dan impor yang tumbuh di atas perkiraan. Kombinasi keduanya menciptakan kondisi risk-on, mendorong investor mengakumulasi aset berisiko, termasuk saham big caps dan saham siklikal.
“Secara teknikal, IHSG kini berada di area penting 8.600–8.770 yang telah ditembus. Peluang kenaikan menuju 9.000 semakin terbuka apabila indeks mampu mempertahankan penutupan di atas zona tersebut,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Senin (8/12/2025).
Dia menambahkan, sentimen eksternal seperti keputusan suku bunga The Fed, rilis data ekonomi AS dan China, serta penguatan rupiah akan menjadi faktor penentu apakah IHSG dapat menembus level psikologis berikutnya. Sementara itu, area support di 8.400–8.513 masih berfungsi sebagai penopang penting jika terjadi koreksi jangka pendek.
Hendra menilai kenaikan IHSG hari ini bersifat broad-based, tidak hanya ditopang satu kelompok saham. Beberapa emiten seperti DSSA, GOTO, COIN, MORA, dan ENRG menjadi motor penguatan, sementara saham besar seperti TLKM, BRPT, AMMN, dan UNTR justru terkoreksi.
Baca Juga
Net Buy Rp 52,99 miliar di Tengah Rekor IHSG, Saham DEWA dan BMRI Diborong
Sejalan dengan penguatan indeks, saham-saham terkait komoditas, energi, teknologi, dan industri berpotensi melanjutkan tren positif. Perbaikan ekspor China menjadi katalis bagi emiten pertambangan dan energi, sementara peningkatan belanja pemerintah serta permintaan domestik menopang sektor industri dan konstruksi. Saham digital dengan momentum kuat dan likuiditas tinggi juga diperkirakan tetap menarik bagi investor ritel dan institusi.
Dalam jangka pendek, Hendra merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati, antara lain KRAS dengan buy target Rp 500, INDY buy target Rp 2.200, BUMI buy target Rp 300 sebagai saham komoditas berisiko tinggi namun berpotensi besar, serta DEWA buy target Rp 550. Sementara itu, ERAL dapat dipertimbangkan sebagai spec buy dengan target Rp 370 bagi investor agresif.

