Indointernet (EDGE) Optimistis Dua Rute Jaringan Fiber Tambahan, Rampung Akhir 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Indointernet Tbk (EDGE) optimistis pembangunan dua rute jaringan fiber optik tambahan selesai pada akhir 2025. Sehingga secara keseluruhan, Indonet akan memiliki tiga jalur jaringan fiber optik.
Pada pertengahan tahun ini, perseroan telah menyelesaikan pemasangan fiber optik antara data center (DC) segmen I, meliputi jalur Jakarta-Bekasi. Perseroan mencatat, telah menggelontorkan investasi sekitar US$ 30 juta atau Rp 488 miliar (kurs jisdor Rp 16.276) untuk proyek ini sejak pertengahan 2024.
Dalam satu tahun penuh, perseroan menargetkan pembangunan fiber optik sepanjang 30-40 kilometer (km) lagi, dari 700 km jaringan fiber optik indonet yang terpasang saat ini.
“Proses pembangunan infrastruktur Indonet telah mengikuti aturan dan arahan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” jelas Direktur Operasional Indointernet (Indonet) Agus Ariyanto dalam Media Gathering Indonet di Melas Venue & Dining Pakubuwono, Rabu (4/12/2025).
Setelah proyek itu rampung, dia percaya jaringan Indonet akan semakin tangguh dan siap menjawab kebutuhan bandwidth, reliability, dan komputasi data berskala besar di era AI dan cloud.
Bisnis jaringan fiber yang dimulai Indonet dimulai sejak 2024, kini telah terhubung dengan Kawasan Industri sepanjang 100 km lebih. Pengoperasian jalur fiber Indonet di jalur strategis Jakarta menggunakan infrastruktur 100% jalur kabel tanam (underground fiber) berkapasitas Nx576 core.
Baca Juga
“Jaringan yang menghubungkan Jakarta dengan Kawasan Industri dan data center area tersebut, menjadikan Indonet sebagai perusahaan penyedia layanan infrastruktur digital pertama di Indonesia yang menerapkan rute underground fiber berkapasitas besar,” menurut Agus.
Infrastruktur baru itu dirancang untuk menghadirkan konektivitas yang lebih kuat, stabil, dan tahan gangguan, sekaligus mendukung high-availability bagi interkoneksi antar pusat data besar di Jakarta hingga area Bekasi–Karawang.
Manajemen meyakini, kehadiran jaringan tersebut turut menjawab kebutuhan industri akan latensi rendah dan kapasitas tinggi, serta memperkuat konektivitas di kawasan industri dan area pusat data.
Dengan kedalaman pemasangan 1,5–2 meter, fiber tertanam jauh lebih terlindungi dari risiko putus akibat aktivitas konstruksi, cuaca ekstrem, maupun faktor eksternal lainnya. Hal ini memungkinkan operasi jaringan tetap stabil meskipun terjadi aktivitas di atas permukaan.
“Saat ini, koneksi antar-data center menjadi aspek yang sangat kritikal dan menuntut tingkat high-availability tinggi. Seiring dengan growth traffic yang meningkat antar-data center, dibutuhkan jaringan yang andal dan siap menjawab kebutuhan tersebut,” pungkas Agus.

