IHSG Ditutup Melesat 0,47%, Empat Saham Dipimpin COAL Melesat lebih dari 34%
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/12/2025), ditutup melesat sebanyak 40,08 poin (0,47%) menjadi 8.548. Rentang pergerakan 8.493-8.553 dengan nilai transaksi Rp 19,82 triliun.
Kenaikan indeks ditopang penguatan sejumlah sektor saham, seperti sektor konsumer primer 2,89%, sektor energi 1,36%, sektor teknologi 1,08%, sektor infrastruktur 1%, sektor keuangan 0,04%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor properti, transportasi, material dasar, dan industri.
Baca Juga
Sarana Menara (TOWR) Bagikan Dividen Interim Rp 400 Miliar, Intip Jadwal Berikut
Di tengah penguatan indeks, sejumlah sektor saham ini ditutup melesat hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham COAL menguat 34,94% menjadi Rp 112, OPMS menguat 34,45% menjadi Rp 160, PADI menguat 34,43% menjadi Rp 164 dan STAR naik 34,41% menjadi Rp 250.
ARA juga melanda saham TALF naik 25% menjadi Rp 585, ROCK sebanyak 25% menjadi Rp 850, TALF 25% menjadi Rp 585, ASLI naik 24,87% menjadi Rp 492, dan saham IGAR naik 24,58% menjadi Rp 735. Meski tak ARA, saham ini melesat GTSI naik 28,06% menjadi Rp 178, ENRG naik 21,32% menjadi Rp 1.195, dan INDY menguat 18,29% menjadi Rp 2.070.
Adapun, sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil catatkan kenaikan sebanyak 94,35 poin (1,12%) menjadi 8.508. Bahkan, indeks sempat level tertinggi baru 8.622 dengan rata-rata transaksi mingguan melesat menjadi Rp 41,87 triliun.
Baca Juga
BI Minta Kadin Dorong Sektor swasta untuk Memanfaatkan Dana di Perbankan
Penguatan ini berdampak terhadap lompatan kapitalisasi pasar (market cap) BEI menjadi Rp 15.626 triliun atau setara dengan US$ 938 miliar. Lima saham pendorong utama kenaikan indeks pekan ini datang dari penguatan saham DSSA sebanyak 9,95%, CUAN melesat 18,58%, CASA naik 38,89%, FILM naik 21,46%, dan MPRO naik 27,78%.
Penguatan ditopang saham sektor industry menguat 6,35%, sektor energi 6,11%, sektor property 6,09%, sektor infrastruktur 4,35%, sektor keuangan 3,04%, dan sektor material dasar 2,03%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor teknologi, transportasi, dan kesehatan.

