Jaga Kualitas Aset, Bank Woori Saudara (BWS) Perkuat Manajemen Risiko Kredit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Woori Saudara 1906 Tbk (SDRA) atau BWS terus memperkuat manajemen risiko kredit di tengah dinamika ekonomi global dan gejolak pasar keuangan.
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5% hingga kuartal III-2025 serta inflasi yang terjaga di target Bank Indonesia (BI), analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi menilai risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. “Sentimen eksternal masih perlu diantisipasi terutama tensi geopolitik dan risiko nilai tukar rupiah. Bank-bank perlu mengelola risiko ini dengan baik, tidak terkecuali bank skala besar maupun kecil,” ujarnya.
Sebagai bank devisa yang masuk kategori KBMI II dengan modal inti Rp 6–14 triliun, bank asal Korea, BWS, menjadi sorotan terkait strategi pengelolaan risiko kredit, terutama pada kredit berdenominasi valuta asing. Leonardo menekankan bahwa bank perlu lebih selektif dalam memilih sektor hingga tujuan penggunaan kredit, baik konsumtif maupun produktif.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Naik Tipis 9,1 Poin, Saham PADI dan STAR Cetak ARA
BWS tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp 45,2 triliun per September 2025. Kredit konsumsi berkontribusi Rp 18,5 triliun atau 40,8% dari total kredit, dengan Rp 18,4 triliun disalurkan dalam rupiah. Kredit modal kerja mendominasi portofolio sebesar Rp 23,8 triliun atau 52,6%, terdiri dari Rp 12,9 triliun kredit rupiah dan Rp 10,9 triliun dalam dolar AS.
Sementara itu, kredit investasi mencapai hampir Rp 3 triliun atau 6,6% dari total penyaluran, dengan porsi dominan dalam dolar AS sebesar Rp 2,2 triliun. Leonardo menjelaskan bahwa komposisi tersebut mencerminkan praktik manajemen risiko yang terukur, terutama dalam mengelola eksposur valas di tengah volatilitas pasar global.
Langkah strategis lain yang dapat ditempuh bank untuk menjaga kualitas aset adalah memperbesar pencadangan sebagai tindakan pre-emptive. Dengan kondisi ekonomi yang sarat risiko dan ancaman perlambatan pertumbuhan, penerapan sistem monitoring portofolio secara real time serta early warning system dinilai semakin penting.
Baca Juga
Inflasi November 2025 Sentuh 0,17%, Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Terbesar
“Dengan sistem peringatan dini, bank bisa meramu portofolio kredit yang relevan, menentukan sektor yang perlu dioptimalkan atau direm terlebih dahulu, hingga menentukan kebutuhan pencadangan tambahan,” jelas Leonardo.
Dia menegaskan bahwa bank-bank kecil, terutama di kelompok KBMI I dan II, perlu mengadopsi strategi adaptif dalam menghadapi risiko kredit, agar dapat menjaga kualitas aset dan mempertahankan kinerja yang sehat di tengah kondisi pasar yang makin dinamis.

