IHSG ATH Berkali-Kali, Sekuritas Ini Peringatkan Investor untuk Berhati-Hati
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak rekor tertingginya berkali-kali. Bahkan, IHSG telah menembus level tertinggi barunya di 8.478,14 perdagangan intraday sesi I, Senin (10/11/2025).
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menjelaskan, rekor tertinggi IHSG ditopang aksi beli bersih investor asing senilai Rp 3,3 triliun pekan lalu dan sentimen positif dari data ekonomi domestik yang solid.
Baca Juga
Hari Pahlawan Jadi Momentum Pertamina Resmikan Pengoperasian Awal RFCC RDMP Balikpapan
Capaian tersebut terjadi di tengah tekanan pasar global, khususnya Wall Street yang mengalami koreksi akibat kekhawatiran valuasi saham teknologi AI. "Pasar Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat. Investor asing melihat valuasi yang atraktif didukung pertumbuhan PDB 5,04% dan inflasi terkendali di 2,86%," ujar Hari, Senin (10/11/2025).
Data Indo Premier Sekuritas menunjukkan, dana asing mengalir dominan ke sektor perbankan dan telekomunikasi. BBCA mencatat akumulasi terbesar senilai Rp 1,2 triliun, diikuti TLKM dengan Rp 814 miliar sepanjang pekan lalu.
"Sentimen rebalancing indeks MSCI menjadi salah satu pendorong utama masuknya dana asing, selain fundamental ekonomi domestik yang tetap solid," tandas Hari.
Baca Juga
Toyota Siap Investasi Rp 2,5 Triliun Kembangkan Bioetanol di Indonesia
Memasuki pekan ini, pada 10-14 November 2025, Hari memprediksi IHSG akan memasuki fase konsolidasi dengan pergerakan sideways di kisaran support 8.260 dan resistance 8.620.
Secara global, pasar diperkirakan bergerak hati-hati menyusul ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan rilis data ekonomi AS. Di domestik, pelaku pasar akan mencermati kebijakan pemerintah terkait pengawasan rokok ilegal dan cukai hasil tembakau yang dapat memengaruhi sektor konsumer.
Pasar juga menanti dua katalis potensial yang dapat menggerakkan sentimen pekan ini. Katalis dimaksud adalah rumor IPO Superbank yang dikabarkan berlangsung November ini, serta isu merger GRAB dan GOTO yang kali ini melibatkan Danantara sebagai pihak strategis. "Kedua isu ini berpotensi menjadi penggerak pasar positif, terutama untuk sektor teknologi dan finansial digital," jelas Hari.

