MSCI Wacanakan Pakai Data KSEI untuk Hitung ‘Free Float’ Saham Indonesia, Bagaimana Dampaknya?
JAKARTA, investortrust.id – Morgan Stanley Capital International (MSCI) mewacanakan penggunaan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk perhitungan free float per Mei 2026. Keputusan ini disinyalir jadi pemicu utama kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, 243 poin (2,94%) menjadi 8.028.
Laporan Stockbit Sekuritas yang bersumber dari MSCI menuliskan, MSCI tengah meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI. Data ini sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Jatuh 2,94%, Sejumlah Faktor Ini Jadi Peneka Utama
Dari ulasan yang sama, Stockbit menginformasikan, selama ini emiten di Indonesia hanya melaporkan pemegang saham dengan kepemilikan ≥5% kepada BEI. “Sementara data KSEI melaporkan kepemilikan di bawah <5% dan memberikan klasifikasi pemegang saham sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih rinci terkait pemegang saham <5%,” tulis Stockbit, dikutip pada Senin (27/10/2025).
Selain wacana penggunaan laporan KSEI tersebut sebagai referensi tambahan, MSCI mengusulkan agar estimasi free float ditentukan berdasarkan nilai terendah di antara free float yang dihitung menggunakan data kepemilikan yang dilaporkan emiten dalam keterbukaan informasi, reports, dan press release, berdasarkan metodologi MSCI
Baca Juga
IHSG Turun Hampir 4%, Analis: Volatil tapi Sudah Terprediksi
“Sebagai catatan, wacana ini belum pasti diberlakukan dan masih menunggu masukan dari para pelaku pasar. MSCI akan menerima masukan hingga 31 Desember 2025 dengan hasil dari konsultasi akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026,” tegas Stockbit.
Jika proposal tersebut diterapkan, perubahannya akan diimplementasikan pada review indeks bulan Mei 2026.

