BBTN Cetak Kenaikan Laba dan Likuiditas: Analis Pertahankan Beli dengan Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berhasil mencatatkan kenaikan sebanyak 10,6% menjadi Rp 2,3 triliun hingga kuartal III-2025. Realisasi tersebut sudah sesuai dengan target internal perseroan atau merefleksikan 74,1% dari target laba bersih tahun ini.
Analis Samuel Sekuritas Brandon Boedhiman dan Prasetyo Gunadi mengungkap bahwa kinerja BBTN pada periode ini ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebayak 43,5% secara tahunan menjadi Rp 12,76 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 8,89 triliun.
Peningkatan tersebut didorong kenaikan penyaluran kredit 7% secara tahunan, khususnya pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi yang naik 8,0% YoY menjadi Rp 186,6 triliun serta kredit non-hunian yang tumbuh 10,7% YoY, termasuk lonjakan kredit korporasi 27,5% YoY.
Baca Juga
Laba BTN (BBTN) Naik 10,6% Capai Rp 2,3 Triliun di Kuartal III 2025, Ini Pemicunya
Selain menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat di semua segmen, Samuel Sekuritas menyebutkan, likuiditas perseroan menunjukkan perbaikan yang ditunjukkan loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 88,6% atau terendah dalam tiga tahun. Penurunan ini ditopang masuknya dana pemerintah yang ditempatkan Kementerian Keuangan sekitar Rp 25 triliun atau 6,2% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) pada pertengahan September.
Perseroan juga menunjukkan perbaikan kualitas aset yang dicerminkan Loan at Risk (LAR) turun dari 20,2% menjadi 18,6%. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan biaya kredit ke 1,6% dari 2,0% pada kuartal sebelumnya.
Bagaimana dengan prospek kinerja dan sahamnya sampai akhir tahun? Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa BBTN tetap menjadi bank BUMN yang memegang peran utama dalam pembiayaan perumahan. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor perumahan melalui skema KPP meningkat dengan alokasi Rp 7,5 triliun yang diperkirakan terserap penuh hingga akhir tahun. Perseroan juga telah memetakan kebutuhan alokasi Rp 9,5 triliun untuk 2025.
Dari sisi digital, dia mengatakan, aplikasi balé by BTN yang diluncurkan Februari 2025 telah mencapai 3,2 juta pengguna atau tumbuh 68,2% YoY dengan total transaksi Rp 72 triliun. Simpanan pengguna aplikasi naik 22,1% YoY menjadi Rp 21,4 triliun yang memperkuat basis dana murah, sehingga berdampak positif bagi perseroan ke depan.
Baca Juga
Ditopang Ekosistem Perumahan, BTN Optimistis Jadi Penyalur KPP Terbesar
Selain itu, Samuel Sekuritas, manajemen BBTN tetap konsisten untuk mempertahankan target pertumbuhan kredit 8–10% pada 2025 dengan penyaluran kuartal akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp 20–22 triliun. Pertumbuhan DPK diproyeksi lebih tinggi di 9–10% YoY.
Bahkan, BBTN menargetkan pertumbuhan kredit lebih kuat di kisaran 10–11% pada 2026, seiring normalisasi biaya kredit ke 1,0–1,1% dan perluasan porsi pembiayaan perumahan melalui KUR serta FLPP.
Dengan sejumlah dukungan positif tersebut, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN. “BBTN sudah memasuki jalur pemulihan profitabilitas yang didukung penurunan biaya dana (CoF) pasca penurunan bunga acuan BI sebanyak 100 bps, serta peningkatan NIM dari kombinasi program KUR perumahan, pipeline KPP, dan penguatan pendanaan ritel,” tulisnya.
Samuel Sekuritas juga mematok target harga saham BBTN Rp 1.600 untuk 12 bulan. Dengan target harga tersebut terbuka potensi cuan saham ini lebih dari 33%. Bahkan, prospek penguatan saham BBTN makin kencang, apabila penyaluran FLPP meningkat, eksekusi KUR berjalan optimal, dan pemulihan CASA berlanjut. Samuel Sekuritas memperkirakan kenaikan laba bersih BBTN dari Rp 3 triliun menjadi Rp 3,10 triliun tahun ini. Laba bersih persa saham diharapkan naik dari Rp 284 menjadi Rp 294.
Valuasi Termurah
Pandangan positif terhadap saham BBTN juga datang dari tim riset Panin Sekuritas. Tim tersebut dalam riset yang diterbitkan akhir pekan lalu merekomendasikan beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.500. Target ini mengimplikasikan PB tahun 2026 sekitar 0,55 kali.
“Kami masih melihat outlook yang positif saham BBTN. Hal ini didorong oleh dukungan industri untuk kredit FLPP, tren likuiditas yang membaik, sejumlah inisiatif yang positif untuk mendorong funding seperti launching Bale serta fokus ekspansi ke middle institusi dan retail, serta valuasi yang paling murah diantara bank BUMN,” tulisnya.
Baca Juga
Serapan Kredit BTN Rendah, Ini Penyebab dan Solusi Menurut Analis
Sebelumnya, ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pertumbuhan kuat laba bersih BTN ditopang peningkatan bunga kredit sebanyak 18,8% atau lebih tinggi dari kenaikan beban bunga yang sebesar 2,5% yoy. Kenaikan beban bunga dapat dijaga stabil seiring dengan upaya perseroan menggencarkan perolehan DPK berbiaya murah.
Perseroan juga berhasil mengerek naik marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebanyak 101 basis poin (bps) menjadi 3,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,9%. Efisiensi yang dilakukan juga menghasilkan cost to income ratio (CIR) yang turun ke level 47,8% hingga kuartal III 2025, dari periode yang sama tahun lalu sebesar 59,9%.
“Kami menjaga pertumbuhan bisnis terutama di pembiayaan sektor perumahan dan transaksi keuangan yang beragam agar bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan. Upaya ini dilakukan dengan ditopang prinsip kehati-hatian dan perhitungan yang cermat atas kebutuhan di pasar,” ujar Nixon.

