Saham BBCA Melesat hingga Diborong Asing Pekan Ini, Bagaimana Arah Pergerakan Pekan Depan?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penguatan mengensankan lebih dari 10% menjadi Rp 8.275 sepanjang pekan ini atau 20-24 Oktober 2025. Bahkan, saham BBCA menjadi motor utama penopang lompatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 4,50% menjadi 8.271.
Tak hanya itu, pemodal asing terpantau merealisasikan pembelian bersih (net buy) jumbo saham BBCA senilai Rp 2,73 triliun sepanjang pekan ini. Angka tersebut berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya dengan penjualan bersih (net sell) saham BBCA mencapai Rp 603,79 miliar.
Baca Juga
IHSG Sepekan: Tembus Rekor Tertinggi hingga Asing Borong Saham Bank Dipimpin BBCA
Lalu, apakah kenaikan harga saham BBCA masih berlanjut hingga pekan depan? Jika melihat riset dari mayoritas analis mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga di atas Rp 10.000. Di antararnya, BRI Mandiri Sekuritas merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.200. BBCA disebut menjadi saham pilihan dari sektor bank.
Begitu juga dengan Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa realisasi kinerja BBCA hingga September 2025 menggambarkan perbaikan outlook baik. Hal ini mendorong sekuritas ini mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.000. Target harga tersebut juga menggambarkan kenaikan rasio dividen.
Begitu juga MNC Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA, namun dengan target harga direvisi menjadi Rp 10.500 per saham. Nilai tersebut mengindikasikan price-to-book value (PBV) FY25F/FY26F di kisaran 4,9x/4,4x. Target harga tersebut juga mempertimbangkan berlangsungnya pembelian kembali saham (buyback) saham dengan anggaran Rp 5 triliun mulai 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026.
Baca Juga
MNC Sekuritas juga menyebutkan bahwa target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan yield dividen tahun buku 2025. Target tersebut juga merefleksikan kenaikan laba bersih BBCA sebanyak 5,7% menjadi Rp 43,4 triliun hingga kuartal III-2025 atau sejalan dengan ekspektasi pasar.
Kinerja laba BBCA ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 5% yoy dan pendapatan non-bunga yang naik 12% yoy. Beban operasional tercatat terkelola dengan baik hanya meningkat 4,6% yoy, sehingga rasio cost-to-income (CIR) turun menjadi 29,2%, lebih efisien dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Margin bunga bersih (NIM) tercatat stabil di level 5,8%, sesuai panduan manajemen pada kisaran 5,7–5,8%. Meski terdapat tekanan yield aset, biaya dana (CoF) tetap terjaga di 1,1%. Manajemen memperkirakan NIM akan sedikit menurun menuju sekitar 5,7% pada kuartal IV-2025, namun efisiensi operasional diproyeksikan mampu menjaga profitabilitas.

