Tangguh di Tengah Tekanan Margin, Begini Prospek Saham BBCA
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Didukung keberhasilan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kinerja solid sepanjang sembilan bulan pertama 2025 dengan torehan laba bersih mencapai Rp 43,4 triliun atau tumbuh 6% secara tahunan (yoy), saham BBCA layak dipertahankan beli. Bahkan, saham BBCA tetap menjadi pilihan teratas untuk saham sektor perbankan Tanah Air.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.200 atau target harga turun tipis dari semula Rp 11.900. Target ini didasarkan metode Gordon Growth Model (GGM) dengan rata-rata cost of equity (CoE) 6,8% dan proyeksi return on equity (ROE) tahun ini sebesar 21,4% dan mencerminkan price-to-book value (PBV) 4,9 kali.
Baca Juga
BCA (BBCA) Siapkan Dana Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham, Berlaku hingga Januari 2026
Bahkan, perusahaan sekuritas negara ini mempertahankan BBCA seabgai saham pilihan utama di sektor perbankan, berkat likuiditas kuat, biaya dana rendah, dan kualitas aset yang solid. Risiko utama terhadap proyeksi ini meliputi penurunan kualitas aset dan yield kredit yang lebih rendah dari perkiraan.
Target harga tersebut juga merefleksikan peluang kinerja BBCA pada kuartal IV-2025 yang lebih baik, BBCA memperkirakan penyaluran kredit korporasi akan meningkat dengan proyeksi pertumbuhan pinjaman (loan at risk/LaR) FY25 sekitar 5,7%. Bank tetap berhati-hati terhadap kredit otomotif, namun melihat perbaikan pada segmen KPR dan UMKM.
Sedangkan prospek kinerja tahun 2026, manajemen BCA memperkirakan penurunan suku bunga BI sebesar 75bps yang berpotensi menekan NIM sebesar 20–30bps. Namun, dampak tersebut diantisipasi dengan pertumbuhan kredit 8–10%, kenaikan fee-based income, dan peningkatan kualitas aset di tengah lingkungan suku bunga rendah.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano mengatakan, realisasi kinerja keuangan BBCA hingga kuartal III-2025 sudah sesauai dengan perkiraan analis dan consensus. Raihan laba tersebut setara dengan 74% dari target BRI Danareksa Sekuritas dan 75% dari target tahun penuh 2025 dari consensus analis.
Baca Juga
BCA (BBCA) Ungkap Rencana Pembagian Dividen di Akhir Tahun Ini hingga IPO BCA Digital
Meski margin bunga bersih (NIM) turun 18 basis poin (bps) yoy menjadi 6,2% akibat pelemahan yield aset, dia mengatakan, BCA berhasil menciptakan efisiensi yang lebih baik ditunjukkan dengan cost-to-income ratio (CIR) menjadi 33,3%, didukung pertumbuhan biaya operasional yang terkendali (+5% yoy) serta kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 5% yoy dan pendapatan lain-lain 12% yoy.
Sedangkan biaya pencadangan (provision expenses) meningkat 49% yoy yang berimbas terhadap kenaikan cost of credit (CoC) menjadi 0,5%, seiring langkah proaktif perseroan dalam menghadapi pelemahan pinjaman konsumsi pasca-kuartal I 2025. Manajemen mempertahankan target CoC FY25 di 0,5%, menunjukkan sikap hati-hati dalam ekspansi kredit selektif.
Terkait kinerja keuangan per kuartal III-2025, BBCA membukukan laba bersih Rp 14,4 triliun, turun tipis 3% secara kuartalan (qoq), namun naik 1% yoy. Peningkatan CoC menjadi 0,6% (+22bps qoq, +19bps yoy) menekan profitabilitas, meskipun pre-provision operating profit (PPOP) tetap kuat.
Baca Juga
Pelemahan terutama berasal dari segmen kredit konsumsi, khususnya KPR dan otomotif, serta pembentukan pencadangan tambahan di segmen korporasi dan komersial. NIM turun menjadi 6,1% (-6bps qoq, -37bps yoy), tertekan oleh yield kredit yang lebih rendah (7,2%) dan porsi kredit korporasi yang meningkat.
Biaya dana (CoF) tetap stabil di 1,1%, ditopang oleh rasio CASA yang tinggi dan biaya CASA yang terjaga di 57bps. Meski beban operasional meningkat, CIR masih terkendali di 33,2% berkat kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 10% qoq dan 14% yoy.

